Jakarta, MI— Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% memberi angin segar bagi pasar saham domestik. Kebijakan tersebut dinilai menjaga ruang likuiditas sekaligus meredam kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Agustus 2026, BI mempertahankan BI-Rate 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%. BI menyebut keputusan itu ditempuh untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah gejolak global sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Bagi pasar saham, keputusan tersebut menjadi katalis positif terutama dari sisi sentimen. Sebelumnya, pelaku pasar sempat memperhitungkan potensi pengetatan kebijakan moneter.
Dengan BI memilih menahan suku bunga, tekanan terhadap likuiditas pasar dapat lebih terkendali. Kondisi ini memberi ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko, meski arah pasar tetap akan sangat bergantung pada arus dana asing dan sentimen global.
Namun, respons IHSG belum langsung mencerminkan sentimen positif tersebut.
Pada perdagangan Rabu (19/8/2026), IHSG justru terkoreksi 0,86% atau 55,7 poin ke level 6.394,12. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar Rp488,49 miliar.
Artinya, keputusan BI masih membutuhkan konfirmasi dari pergerakan pasar berikutnya. Pasar tidak hanya mencermati suku bunga, tetapi juga rupiah, imbal hasil US Treasury, harga minyak serta pergerakan modal asing.
Dari sisi teknikal, area 6.377 menjadi level yang patut diperhatikan investor. Posisi tersebut sebelumnya menjadi salah satu area penting dalam pergerakan IHSG.
Jika indeks mampu bertahan di atas area tersebut, peluang pembentukan momentum positif masih terbuka. Sebaliknya, tekanan jual yang membawa IHSG menembus support dapat memperbesar risiko koreksi lanjutan.
Analis pasar juga melihat momentum bullish IHSG masih memiliki peluang bertahan, tetapi investor perlu mencermati kemampuan indeks mempertahankan level-level support penting.
Situasi pasar saat ini menunjukkan investor masih melakukan seleksi ketat. Pada perdagangan sebelumnya, sektor energi, infrastruktur, dan transportasi sempat menjadi penopang dengan penguatan masing-masing mencapai 2,24%, 1,65%, dan 1,42%.
Dalam kondisi tersebut, tema emas dan energi masih berpeluang menjadi motor utama perhatian investor. Rotasi ke saham-saham tematik juga berpotensi berlanjut apabila sentimen pasar membaik dan likuiditas mulai mengalir lebih deras.
Skenario yang paling ideal bagi pasar adalah bertahannya minat terhadap saham berbasis komoditas, terutama emas dan energi, kemudian diikuti munculnya kembali spekulasi pada saham-saham tematik.
Tanda yang perlu diperhatikan adalah semakin banyak saham yang mampu menyentuh batas atas (ARA), terutama jika terjadi secara beruntun. Kondisi itu dapat menjadi indikator bahwa selera risiko investor mulai kembali meningkat.**
