BREAKINGNEWS

Yield US Treasury Meledak 5,31%, Jepang Terjepit: Jual Obligasi Bisa Guncang Pasar AS

Yield US Treasury Meledak 5,31%, Jepang Terjepit: Jual Obligasi Bisa Guncang Pasar AS
Ilustrasi nilai tukas Dolar USD

Jakarta, MI – Pasar obligasi Amerika Serikat memasuki fase yang semakin sensitif. Yield US Treasury tenor 30 tahun melonjak hingga sekitar 5,31%, level tertinggi sejak 2007, di tengah kekhawatiran membengkaknya utang pemerintah AS dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan. 

Lonjakan yield tersebut menjadi alarm bagi pasar global. Semakin tinggi yield obligasi AS, semakin mahal biaya yang harus ditanggung pemerintah, korporasi, dan rumah tangga.

Tekanan itu juga menempatkan Jepang dalam posisi sulit. Jepang merupakan salah satu pemegang terbesar US Treasury dan membutuhkan dolar untuk menjaga stabilitas yen.

Secara teori, Jepang dapat menjual sebagian kepemilikan Treasury untuk memperoleh dolar dan melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Namun, aksi jual besar-besaran justru berpotensi memperparah tekanan di pasar obligasi AS. Harga Treasury bisa semakin turun dan yield kembali melonjak.

Masalahnya menjadi semakin besar karena tekanan tidak hanya datang dari Jepang.

Pasar global juga menghadapi perubahan permintaan terhadap surat utang AS. Data terbaru menunjukkan pembelian bersih US Treasury oleh sektor swasta asing turun ke level terendah sejak Januari.

Dalam situasi seperti ini, setiap aksi jual dari pemegang besar Treasury berpotensi menjadi perhatian serius investor.

Tekanan tersebut bahkan telah mendorong Departemen Keuangan AS mengambil langkah untuk meredam gejolak. Treasury menggandakan batas pembelian kembali obligasi jangka panjang menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi, dari sebelumnya sekitar US$2 miliar.

Langkah tersebut membantu menurunkan yield 30 tahun dari kisaran puncaknya sekitar 5,33% menjadi sekitar 5,18% dalam perdagangan terbaru. 

Namun, intervensi tersebut belum menyelesaikan persoalan fundamental.

Utang AS yang telah menembus US$40 triliun membuat kenaikan yield jangka panjang menjadi persoalan serius.

Jika yield bertahan tinggi, beban bunga pemerintah AS semakin besar. Pada saat bersamaan, valuasi saham, terutama saham teknologi dengan valuasi tinggi, ikut menghadapi tekanan karena biaya modal meningkat.

Bagi Jepang, pilihan menjual Treasury juga bukan tanpa konsekuensi.

Jika Tokyo melepas Treasury dalam jumlah besar untuk memperoleh dolar, aksi tersebut dapat menekan harga obligasi AS dan mendorong yield semakin tinggi.

Karena itu, mekanisme repo dengan Treasury sebagai agunan menjadi salah satu cara memperoleh likuiditas dolar tanpa harus melakukan aksi jual besar-besaran di pasar.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Yield US Treasury Meledak 5,31%, Jepang Terjepit: Jual Obligasi Bisa Guncang Pasar AS | Monitor Indonesia