Jakarta, MI - Presiden Prabowo Subianto menyoroti kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai masih banyak bermasalah. Menurutnya, terlalu banyak BUMN yang tidak produktif dan terus mencatat kerugian.
"Terlalu banyak BUMN yang tidak produktif. Rugi terus, laporannya untung. Ngarang saja itu untungnya itu," tegas Prabowo dalam Pidato Kenegaraan di Gedung MPR/DPR/DPD, akhir pekan lalu.
Ia menyebut jumlah BUMN, termasuk anak dan cucu perusahaan, mencapai 1.074 entitas. Pemerintah pun terus mendorong konsolidasi dan perampingan.
Sejauh ini, sebanyak 290 BUMN telah ditutup. Pemerintah menargetkan jumlah BUMN tersisa paling banyak 300 entitas pada akhir 2026.
“Pada akhir tahun ini, kita targetkan hanya memiliki paling banyak 300 BUMN, 750 BUMN lebih akan kita tutup. Hanya yang produktif, hanya yang menciptakan nilai tambah akan kita pertahankan,” ujarnya.
Prabowo mengatakan, restrukturisasi tersebut berpotensi menjadi salah satu restrukturisasi korporasi terbesar di dunia. Efisiensi yang telah dilakukan juga disebut menghasilkan penghematan sekitar Rp50 triliun.
“Ini artinya setiap tahun Rp 50 triliun tidak lagi habis untuk membiayai gaji direksi dan komisaris, dan hal-hal yang tidak produktif. Uang itu sekarang kita gunakan untuk investasi, untuk industrialisasi, untuk peningkatan pelayanan, dan hal-hal yang langsung bermanfaat bagi rakyat,” tuturnya.
Lalu, BUMN mana saja yang masih mencatat kerugian? Berikut sejumlah perusahaan pelat merah yang membukukan kerugian dalam beberapa tahun terakhir.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT)
Waskita Karya mencatat rugi bersih Rp3,93 triliun pada 2025, membengkak 51,7% dari tahun sebelumnya. Sejak restatement laporan keuangan 2019, Waskita belum kembali mencatat laba.
Tekanan utama berasal dari utang. DER perseroan mencapai 18,27 kali pada 2025, jauh di atas rata-rata perusahaan konstruksi, dengan liabilitas mencapai Rp67,1 triliun. Meski telah menjalani restrukturisasi utang, pemulihan keuangan Waskita masih bergantung pada akses pendanaan dan keberhasilan divestasi sejumlah ruas tol.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)
WIKA membukukan rugi Rp9,71 triliun pada 2025, naik tajam dari Rp2,27 triliun pada 2024. Salah satu sumber tekanan berasal dari proyek Whoosh, di mana WIKA harus mencatat bagian kerugian sekitar Rp1,7 triliun per tahun.
Beban bunga utang yang mencapai sekitar Rp3 triliun per tahun turut menekan kinerja. Di saat yang sama, kontrak baru WIKA turun dari Rp33,35 triliun pada 2022 menjadi Rp17,43 triliun pada 2025 seiring kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI)
Adhi Karya mencatat rugi Rp5,4 triliun pada 2025, melonjak dari Rp86,75 miliar pada 2024. Tekanan terutama berasal dari kebutuhan modal kerja dan lambatnya penerimaan kas proyek.
Keterlibatan dalam proyek LRT Jabodebek menjadi salah satu beban, dengan utang kepada ADHI mencapai Rp2,2 triliun yang akan dibayarkan melalui KAI. Investasi di sejumlah jalan tol juga menyerap likuiditas dan menambah beban bunga serta depresiasi.
Indofarma Tbk (INAF)
Indofarma membukukan rugi Rp77,9 miliar pada 2025 dan terus merugi sejak 2021. Setelah pandemi, permintaan alat kesehatan dan obat-obatan anjlok sehingga perseroan harus mencatat penurunan nilai persediaan.
Kondisi INAF juga diperburuk persoalan tata kelola. BPK menemukan indikasi fraud di Indofarma dan anak usahanya dengan potensi kerugian negara Rp471,8 miliar. Temuannya antara lain transaksi fiktif, pinjol ilegal, penggunaan kartu kredit pribadi, hingga rekayasa dan penggelembungan persediaan yang berujung pada restatement laporan keuangan.
