BREAKINGNEWS

Wall Street Diguncang Yield Treasury, IHSG Justru Rebound: Investor Mulai Berburu Saham

Wall Street Diguncang Yield Treasury, IHSG Justru Rebound: Investor Mulai Berburu Saham
Wall Street Amsrika Serikat

Jakarta, MI – Gejolak pasar obligasi Amerika Serikat belum mampu mematahkan momentum pasar saham Indonesia. Setelah terkoreksi sehari sebelumnya, IHSG kembali rebound dan bergerak di kisaran 6.475 pada perdagangan 20 Agustus 2026. 

IHSG sebelumnya ditutup melemah 0,86% ke level 6.394,12 pada 19 Agustus. Namun, tekanan tersebut segera direspons pasar dengan aksi beli.

Kondisi ini menunjukkan investor domestik masih memiliki ruang untuk masuk ke pasar saham meski sentimen global belum sepenuhnya aman.

Salah satu perhatian utama tetap datang dari pasar obligasi AS.

Yield US Treasury 30 tahun sempat melonjak hingga 5,31%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield tersebut biasanya menjadi tekanan bagi aset berisiko karena investor memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari surat utang AS. 

Namun, tekanan itu mulai mereda setelah pemerintah AS meningkatkan program buyback Treasury jangka panjang.

Yield 30 tahun kemudian turun dari level puncaknya. Pergerakan tersebut memberikan sedikit napas bagi pasar saham global. 

Analis pasar saat ini menempatkan zona 6.377–6.355 sebagai area support penting. Selama IHSG mampu bertahan di atas zona tersebut, peluang indeks kembali menguji 6.490–6.500 masih terbuka. Jika level 6.500 berhasil ditembus, ruang penguatan berikutnya berada di sekitar 6.723. 

Pergerakan tersebut membuat investor kini tidak hanya memperhatikan indeks, tetapi juga arus dana asing dan perubahan hotspot perdagangan.

Jika dana asing terus masuk, penguatan IHSG memiliki fondasi yang lebih kuat. Sebaliknya, apabila yield Treasury kembali melonjak dan dolar menguat tajam, tekanan terhadap pasar negara berkembang dapat kembali muncul.

Pasar Indonesia juga memiliki katalis dari dalam negeri. Investor masih mencermati kebijakan Bank Indonesia, pergerakan rupiah, serta likuiditas domestik.

Dengan kondisi tersebut, strategi pasar mulai bergeser dari sekadar bertahan menjadi selektif berburu saham bertema kuat.

Saham sektor komoditas dan energi masih menjadi perhatian karena ketidakpastian global dapat menjaga permintaan terhadap aset berbasis komoditas.

Namun, investor tetap harus mewaspadai saham yang sudah mengalami kenaikan tajam. Lonjakan harga yang terlalu cepat berpotensi diikuti aksi ambil untung.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Wall Street Diguncang Yield Treasury, IHSG Justru Rebound: Investor Mulai Berburu Saham | Monitor Indonesia