BREAKINGNEWS

Jangan Salah Tafsir, BPS Jelaskan Arti Desil dalam DTSEN

Jangan Salah Tafsir, BPS Jelaskan Arti Desil dalam DTSEN
Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti (Foto: Dok. BPS)

Jakarta, MI - Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan posisi desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) bukan ukuran mutlak kemiskinan, pendapatan, maupun kekayaan sebuah keluarga.

Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan keluarga. Masyarakat dibagi ke dalam 10 kelompok, dengan desil 1 sebagai kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah dan desil 10 paling tinggi.

“Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi,” kata Amalia dalam keterangan tertulis, Jumat (21/8/2026).

Artinya, keluarga yang masuk desil tertentu tidak otomatis memiliki kondisi ekonomi yang sama. Misalnya, keluarga desil 3 berarti berada di kelompok ketiga dari 10 kelompok kesejahteraan relatif, bukan berarti memiliki tingkat pendapatan tertentu.

Penentuan desil juga tidak hanya melihat penghasilan atau satu indikator seperti pekerjaan, kepemilikan barang, dan daya listrik. BPS memperhitungkan berbagai kondisi secara bersamaan, mulai dari kondisi perumahan, sumber air minum, bahan bakar dan energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, serta disabilitas.

Data tersebut kemudian diolah menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT) untuk mengestimasi tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan karakteristik yang dapat diamati.

DTSEN sendiri menjadi basis data bersama pemerintah untuk perencanaan, penetapan sasaran, dan evaluasi program. Data ini awalnya dibangun dengan mengintegrasikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), dan Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), kemudian diperkaya dengan data administrasi dan disinkronkan dengan data kependudukan.

BPS menyebut posisi desil bisa berubah seiring perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga maupun posisi relatifnya terhadap keluarga lain. Namun, perubahan satu indikator tidak otomatis membuat desil berubah karena penilaian menggunakan berbagai karakteristik secara bersamaan.

Per 10 Juli 2026, DTSEN Versi 3 2026 mencakup 290,13 juta record individu dan 95,98 juta record keluarga.

BPS bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terus memperbarui data melalui data administrasi, sensus dan survei, pemutakhiran pemerintah daerah, pengecekan lapangan, serta informasi dari masyarakat.

Masyarakat yang menemukan data dirinya atau keluarganya tidak sesuai dapat mengajukan pembaruan melalui kanal resmi, seperti Cek Bansos (cekbansos.kemensos.go.id) atau aplikasinya, SIKS-NG melalui operator desa/kelurahan, serta Cek DTSEN (dtsen-form.bps.go.id).

“BPS bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terus melakukan pemutakhiran untuk menjaga kualitas DTSEN agar semakin mencerminkan kondisi masyarakat,” tutur Amalia.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Jangan Salah Tafsir, BPS Jelaskan Arti Desil dalam DTSEN | Monitor Indonesia