Imbas Konflik Timur Tengah, Qatar hingga Israel Setop Produksi Energi

Jakarta, MI - Ketegangan di Timur Tengah kian berdampak luas. Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, sejumlah negara kawasan mulai menyetop produksi gas dan menutup kilang minyak pada Senin (2/3/2026).
Qatar dilaporkan menghentikan operasional produksi gas alam cair (LNG). Sementara itu, Arab Saudi juga menutup kilang minyak terbesarnya setelah serangan drone mengguncang fasilitas energi strategis tersebut.
Berdasarkan laporan Reuters, penghentian operasional dilakukan sebagai langkah pencegahan di fasilitas minyak dan gas di seluruh Timur Tengah.
"Gelombang serangan di kawasan tersebut memasuki hari ketiga, mengakibatkan sebagian besar produksi minyak di Irak Kurdistan dihentikan, serta beberapa ladang gas utama Israel ditutup, sehingga menghambat ekspor ke Mesir," tutur sumber tersebut.
Harga minyak dunia melonjak tajam hingga 13 persen dan menembus level di atas US$82 per barel, menjadi yang tertinggi sejak Januari 2025.
Situasi memanas bahkan nyaris melumpuhkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Di Arab Saudi, perusahaan energi nasional Saudi Aramco juga telah menutup kilang Ras Tanura berkapasitas 550 ribu barel per hari (bph) sebagai langkah pencegahan. Kilang tersebut merupakan bagian dari kompleks energi di pesisir teluk yang juga menjadi terminal ekspor penting bagi minyak mentah Arab Saudi.
Sementara itu di Irak, sejumlah perusahaan energi seperti DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy juga menghentikan produksi di ladang-ladang minyak mereka sebagai langkah antisipatif. Meski demikian, tidak ada laporan kerusakan fasilitas hingga saat ini.
Kemudian di lepas pantai Israel, pemerintah Israel menginstruksikan Chevron untuk sementara menutup ladang gas raksasa Leviathan.
Perusahaan tersebut diketahui sedang dalam proses ekspansi kapasitas menjadi sekitar 21 miliar meter kubik per tahun sebagai bagian dari kesepakatan ekspor senilai 35 miliar dolar AS ke Mesir.
Juru bicara Chevron yang turut mengoperasikan ladang gas Tamar di lepas pantai Israel memastikan fasilitas mereka tetap dalam kondisi aman. "Perusahaan Energean menutup kapal produksi yang melayani ladang gas berukuran lebih kecil," tulis Reuters dalam laporannya.
Di Iran, ledakan terdengar pada Sabtu di Pulau Kharg—terminal vital yang memproses 90 persen ekspor minyak mentah Iran. Hingga kini, belum diketahui pasti sejauh mana dampak serangan terhadap fasilitas energi di kawasan itu.
Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar ketiga di Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang memproduksi sekitar 4,5 persen pasokan minyak global.
Produksi minyak mentah Iran mencapai sekitar 3,3 juta barel per hari, ditambah sekitar 1,3 juta barel per hari kondensat dan cairan lainnya.
Di sisi lain, pemerintah Qatar menyatakan fasilitas energi milik QatarEnergy menjadi sasaran dua drone Iran pada Senin. Otoritas setempat masih melakukan penilaian untuk mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi.
Topik:
