BREAKINGNEWS

Selat Hormuz Ditutup, Pasar Minyak Global di Ujung Tanduk

Selat Hormuz
Iran menutup Selat Hormuz (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Pasar minyak mentah dunia kembali bergolak. Serangan Amerika Serikat ke Iran pada akhir pekan lalu memantik kekhawatiran soal pasokan energi global, terutama aliran minyak yang melintasi Selat Hormuz.

Iran disebut telah menutup Selat Hormuz. Kabar tersebut langsung membuat pelaku pasar bereaksi keras. Kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka antara Washington dan Teheran memicu aksi borong, mendorong harga minyak melonjak pada awal pekan.

Pada perdagangan Senin (2/3/2026), harga minyak mentah AS melesat 8,4% atau naik US$5,72 ke level US$72,74 per barel. Kenaikan ini memperpanjang reli setelah pasar merespons laporan terbaru terkait langkah Iran di Selat Hormuz.

Sementara itu, patokan global Brent juga melonjak 9%, atau $6,65, menjadi $79,45.

Harga minyak mengakhiri perdagangan di level tertinggi sejak AS dan Israel membom fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Minyak telah melonjak lebih dari 12% di awal sesi sebelum kemudian turun dari level tertinggi sesi.

Kemudian, harga naik kembali setelah penutupan pasar karena Reuters melaporkan komentar dari komandan Garda Revolusi Iran, yang mengatakan Selat Hormuz telah ditutup dan akan membakar kapal apa pun yang mencoba melewatinya.

"Pada titik ini, tampaknya kita sedang menyaksikan konflik militer skala penuh antara AS dan Iran, yang belum pernah terjadi sebelumnya dan susah untuk dinilai," ujar Vandana Hari, CEO perusahaan riset energi Vanda Insights.

Seiring meningkatnya ketegangan, fokus pasar pun kembali tertuju ke Selat Hormuz, di mana gangguan apa pun akan memiliki konsekuensi langsung dan besar bagi aliran minyak dan LNG global.

Berada di antara Oman dan Iran, Selat Hormuz berfungsi sebagai jalur transit penting - dan potensi titik hambatan - untuk minyak mentah global, dengan sekitar 13 juta barel per hari melewatinya pada tahun 2025, setara dengan sekitar 31% dari seluruh aliran minyak melalui laut, menurut data Kpler.

Selat tersebut menjadi penghubung utama negara-negara produsen besar di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab ke Teluk Oman dan Laut Arab.

Skenario Terburuk

Para analis memetakan kemungkinan eskalasi konflik ini dalam beberapa tingkatan, mulai dari gangguan terbatas pada ekspor minyak Iran hingga opsi paling ekstrem berupa penutupan total Selat Hormuz.

Bagi pasar global, ancaman terbesarnya bukan sekadar berkurangnya pasokan dari Iran. Yang lebih mencemaskan adalah potensi gangguan meluas terhadap pengiriman melalui selat tersebut.

"Indikasi awal menunjukkan serangan skala luas terhadap Iran, dengan serangan balasan yang dapat meningkat hingga melibatkan banyak negara Teluk," ujar Saul Kavonic, kepala penelitian energi di MST Marquee.

Kavonic menilai pasar awalnya akan memperhitungkan berbagai risiko - mulai dari hilangnya hingga 2 juta barel per hari ekspor Iran hingga serangan terhadap infrastruktur regional atau, dalam kasus ekstrem, gangguan jalur pelayaran melalui Hormuz.

Jika Iran benar-benar mampu menutup selat tersebut, dampaknya terhadap pasar energi global dinilai bisa sangat dahsyat.

"Ini bisa menghadirkan skenario tiga kali lebih parah daripada embargo minyak Arab dan revolusi Iran pada tahun 1970-an, dan mendorong harga minyak hingga mencapai angka tiga digit, sementara harga LNG kembali menguji rekor tertinggi tahun 2022," tuturnya.

Senada, Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow mengatakan serangan tersebut secara signifikan meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak di kawasan tersebut, meskipun fasilitas minyak Iran belum menjadi sasaran langsung sejauh ini.

Ia menggambarkan skenario terburuk sebagai serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi yang diikuti penutupan total Selat Hormuz. Menurutnya, peluang terjadinya skenario itu sekitar 33%, terutama jika Iran merasa semakin terdesak oleh tekanan militer dan politik.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru