Hari ke-5 Serangan AS-Israel ke Iran: Korban Tewas Tembus 1.000 Orang

Jakarta, MI - Serangan militer gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran menelan korban besar. Dalam lima hari operasi, hingga Rabu (4/3/2026), lebih dari 1.000 orang dilaporkan tewas.
Tak hanya korban jiwa, serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan infrastruktur, baik fasilitas milik pemerintah maupun bangunan publik.
Dilansir dari Al Jazeera, sejumlah wilayah menjadi sasaran serangan, di antaranya Teheran, kota Qom, Iran Barat dan di seluruh provinsi Isfahan di tengah Iran.
Israel menyatakan telah menghantam bangunan milik Basij, pasukan paramiliter polisi sukarela dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta menargetkan bangunan yang terkait dengan komando keamanan internal Iran.
Jurnalis Al Jazeera, Mohamed Vall, menggambarkan situasi di Iran sebagai sangat memilukan bagi warga yang hidup di zona peperangan karena ledakan drone atau rudal terjadi di mana-mana.
Vall juga menyinggung upaya perdamaian yang belakangan ramai dibicarakan, namun hingga kini belum membuahkan hasil nyata untuk menghentikan konflik.
"Tapi kami tahu 300 anak-anak dan remaja telah dirawat di rumah sakit dengan lebih dari 6.000 [orang] terluka," ujar Vall, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (5/3/2026).
Di sisi lain, Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) menyatakan serangan tersebut turut merusak dua bangunan yang berada di dekat lokasi nuklir Isfahan. Meski demikian, IAEA memastikan tidak ada kerusakan pada fasilitas yang menyimpan material nuklir dan tidak ada risiko pelepasan radiasi.
Serangan yang masih berlangsung juga berdampak pada rencana upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Prosesi yang semula dijadwalkan berlangsung pada Rabu malam terpaksa ditunda. Upacara pemakaman baru akan digelar setelah situasi dinilai cukup aman.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada kantor berita Tasnim bahwa kendala logistik turut menjadi faktor penundaan upacara pemakaman yang akan berlangsung selama beberapa hari.
Dalam serangan tersebut, Ayatollah dan Menteri Pertahanan Iran dilaporkan tewas. Teheran pun mengecam keras serangan AS-Israel. Sebagai respon, Iran akhirnya mengibarkan bendera merah sebagai tanda perlawanan dengan meluncurkan rudal dan drone, salah satunya ke pangkalan militer AS di Bahrain.
Situasi juga memanas setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan laut yang memiliki peran sentral bagi sejumlah negara seperti Indonesia, khususnya di sektor minyak.
Selain itu, Iran juga telah meminta bantuan kepada Rusia dan China setelah wilayahnya dibombardir. Laporan DSM menyebutkan bahwa setelah konflik yang dikenal sebagai “Perang 12 Hari” dengan Israel pada Juni 2025, pemerintah Iran mempercepat negosiasi dengan Rusia dan China untuk pengadaan sistem rudal canggih.
Topik:
