Jakarta, MI - Menteri luar negeri (Menlu) dari 10 negara mengecam tindakan pasukan Israel yang mencegat dan menangkap para aktivis kemanusiaan dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Jalur Gaza.
Dalam operasi tersebut, lebih dari 400 aktivis internasional yang berlayar menggunakan 50 kapal ditahan tentara Israel saat berada di perairan internasional, sekitar 400 kilometer dari Gaza.
Armada kemanusiaan itu diketahui membawa bantuan untuk warga Gaza. Rombongan berangkat dari Turki sebagai bagian dari gelombang kedua misi GSF 2.0.
Gelombang pertama armada Global Sumud Flotilla telah lebih dulu berangkat dari Barcelona, Spanyol. Namun, rombongan tersebut juga ditangkap di perairan Pulau Kreta, Yunani.
"Menteri Luar Negeri Republik Turki, Republik Rakyat Bangladesh, Republik Federatif Brasil, Republik Kolombia, Republik Indonesia, Kerajaan Hashemite Yordania, Negara Libya, Republik Maladewa, Republik Islam Pakistan, dan Kerajaan Spanyol, mengutuk keras serangan Israel yang kembali terjadi terhadap Global Sumud Flotilla," demikian bunyi pernyataan bersama yang dirilis Kemlu Turki, dikutip Selasa (19/5/2026).
Dalam pernyataan bersama itu, para menlu menyampaikan keprihatinan mendalam atas intervensi militer Israel terhadap armada kemanusiaan di perairan internasional.
Mereka menilai tindakan terhadap kapal sipil dan para aktivis kemanusiaan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.
Kesepuluh negara itu juga mendesak Israel segera membebaskan seluruh aktivis yang ditahan serta memastikan hak dan keselamatan mereka tetap dihormati.
Salah satu yang turut ditahan dalam operasi tersebut adalah Margaret Connolly, adik dari Presiden Irlandia, Catherine Connolly.
Sementara itu, Kemlu Yunani juga menyatakan telah meminta pihak Israel untuk menjamin keamanan warga negaranya yang berada di armada tersebut.

