BREAKINGNEWS

WHO Tetapkan Darurat Global, Korban Tewas Ebola di Kongo Tembus 100 Orang

WHO Tetapkan Darurat Global, Korban Tewas Ebola di Kongo Tembus 100 Orang
Korban Jiwa Ebola di Kongo Capai 100 Orang (Foto: Reuters)

Jakarta, MI - Wabah Ebola kembali mengguncang Republik Demokratik Kongo. Dalam wabah terbaru di negara tersebut, sedikitnya 100 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 390 lainnya berstatus suspek Ebola.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah ini sebagai darurat kesehatan global. Meski begitu, WHO menyebut situasinya belum masuk kategori pandemi.

Wabah kali ini dipicu oleh virus Ebola strain Bundibugyo, jenis yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat khusus. Kasus awal muncul di Provinsi Ituri, Kongo.

WHO juga mengingatkan potensi penyebaran wabah masih sangat besar. Risiko penularan disebut tidak hanya mengancam wilayah lokal, tetapi juga bisa meluas ke kawasan regional jika tidak segera dikendalikan.

Direktur jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika, Jean Kaseya, menegaskan masyarakat harus disiplin menjalankan protokol kesehatan karena belum tersedia vaksin maupun pengobatan efektif.

Menurut dia, salah satu langkah penting adalah menerapkan prosedur pemakaman yang aman bagi korban meninggal akibat Ebola tersebut.

"Kita tidak ingin orang terinfeksi karena pemakaman," ujar Kaseya, dikutip Selasa (19/5/2026).

WHO juga meminta Kongo dan Uganda memperketat pengawasan di perbatasan untuk menekan risiko penyebaran virus ke wilayah lain.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melaporkan selain kasus di Kongo, terdapat dua kasus positif serta satu kematian di Uganda.

CDC turut mengungkap sedikitnya enam warga AS terpapar virus Ebola selama wabah di Kongo. Selain itu, satu warga AS mengalami gejala, sementara tiga lainnya diketahui melakukan kontak atau berisiko tinggi terpapar. Hingga kini belum dipastikan apakah mereka benar-benar terinfeksi Ebola.

Pemerintah AS disebut tengah mengupayakan pemindahan sejumlah warganya dari Kongo ke lokasi karantina yang aman. Berdasarkan laporan sejumlah sumber, lokasi yang dimaksud adalah pangkalan militer AS di Jerman, namun hal ini belum dikonfirmasi.

Dalam pembaruan terbaru pada Senin (18/5/2026), CDC menilai risiko penyebaran Ebola di AS masih tergolong rendah. Meski demikian, otoritas kesehatan AS tetap menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk mencegah virus mematikan tersebut masuk ke negaranya.

Langkah pencegahan itu mencakup pemantaua pelancong yang datang dari wilayah terdampak wabah. Pemerintah AS juga memberlakukan pembatasan masuk bagi pemegang paspor non-AS jika pernah menetap di Uganda, Kongo, atau Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir.

Selain itu, AS telah mengeluarkan peringatan perjalanan Level 4 untuk Kongo, level tertinggi dalam sistem peringatan perjalanan, yang mengimbau warganya agar tidak bepergian ke negara tersebut.

Ebola sendiri pernah memicu wabah besar di Afrika Barat pada periode 2014-2016. Saat itu, lebih dari 28.600 orang terinfeksi dalam wabah terbesar sejak virus tersebut pertama kali ditemukan pada 1976.

Penyebaran Ebola kala itu meluas ke sejumlah negara di dalam dan luar Afrika Barat, termasuk Guinea, Sierra Leone, AS, Inggris, dan Italia. Wabah tersebut menyebabkan sekitar 11.325 orang meninggal dunia.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru