Jakarta, MI— Zionis Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon selatan dan timur, Kamis (4/6/2026) petang, meski kurang dari 24 jam sebelumnya Tel Aviv dan Beirut menyepakati proposal gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS).
Serangan terbaru itu menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai 15 lainnya, memperlihatkan rapuhnya kesepakatan penghentian konflik yang baru diumumkan.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut serangan Israel menghantam sejumlah wilayah, termasuk Sohmor, Masaken, dan Arab Al-Jalil.
Militer Israel atau IDF mengklaim seorang tentaranya tewas akibat serangan rudal anti-tank yang ditembakkan Hizbullah di Lebanon selatan. Israel juga menuduh Hizbullah bertanggung jawab atas serangan mortir yang melukai pasukan penjaga perdamaian PBB sehari sebelumnya.
Di tengah memanasnya situasi, Departemen Luar Negeri AS menyatakan Israel dan Lebanon telah menyetujui penerapan gencatan senjata dengan syarat penghentian total serangan Hizbullah serta penarikan milisi dari wilayah Litani Selatan.
Kesepakatan itu juga mencakup pembentukan “zona percontohan” yang nantinya akan berada di bawah kendali penuh Angkatan Bersenjata Lebanon tanpa keterlibatan kelompok bersenjata non-negara.
Namun Hizbullah menolak skema tersebut karena menilai kesepakatan hanya menguntungkan Israel.
Pemimpin Hizbullah Naim Qassem mengecam keras proposal yang dimediasi Washington. Menurutnya, kesepakatan itu merupakan upaya “tidak tahu malu” untuk memaksa Lebanon menyerah di bawah tekanan Israel.
“Itu sama dengan peta jalan untuk memusnahkan sebagian rakyat Lebanon,” tegas Qassem seperti dikutip Russia Today, Jumat (5/6/2026).
Qassem menegaskan Hizbullah tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan selama militer Israel masih berada di wilayah tersebut.
Dia juga memperingatkan bahwa wilayah utara Israel akan tetap berada dalam ancaman selama serangan terhadap Lebanon terus berlangsung.
Trump Klaim Hizbullah Tidak Menolak Proposal Damai
Presiden AS Donald Trump mengklaim dirinya telah berbicara langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait upaya penghentian konflik.
Trump bahkan menyebut dirinya juga berkomunikasi dengan Hizbullah mengenai proposal damai tersebut.
“Mereka tidak akan menolak saya, mereka tidak menolak,” kata Trump kepada wartawan di Oval Office.
Ia menilai masih ada peluang kemajuan dalam hubungan Israel-Lebanon meski situasi di lapangan kembali memanas.
“Akan sangat bagus jika Lebanon bisa memiliki perdamaian. Lebanon telah diserang selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Gelombang konflik terbaru ini terjadi setelah berminggu-minggu operasi militer Israel di Lebanon, termasuk perebutan Kastil Beaufort atau Qalaat al-Chakif, benteng strategis di Lebanon selatan yang pernah menjadi basis Israel saat menduduki wilayah tersebut hingga tahun 2000.**

