Jakarta, MI - Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss berlanjut ke hari kedua pada Senin (22/6/2025), namun suasana sejak awal sudah terasa panas. Di tengah upaya diplomasi tersebut, Iran kembali menutup Selat Hormuz, langkah yang langsung memicu respons keras dari Presiden AS Donald Trump, termasuk ancaman aksi militer lanjutan.
Negosiasi sendiri dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance yang bertemu dengan pejabat Iran sejak Minggu (21/6/2026) di Buergenstock, resor pegunungan di Swiss milik Qatar. Pertemuan ini bertujuan untuk memperpanjang gencatan senjata yang sempat disepakati pada April 2026 untuk setidaknya 60 hari ke depan, berdasarkan nota kesepahaman (MoU) yang dicapai pekan lalu.
Namun, tensi meningkat bahkan sebelum pembicaraan resmi dimulai. Trump, melalui laporan Fox News pada Senin, melontarkan peringatan keras kepada Iran.
"Kalian tidak akan punya negara lagi jika berani menutup selat itu lagi," tegas Trump.
Ia juga kembali menegaskan rencana AS untuk mengambil alih jalur strategis tersebut, termasuk memberlakukan tarif tol bagi kapal yang melintas.
Di balik meja perundingan, kedua pihak justru menyampaikan versi yang berbeda soal jalannya negosiasi.
Dari sisi Iran, kantor berita semi-pemerintah Iran Tasnim melaporkan delegasi Iran sempat melakukan aksi walkout dan menolak kembali ke meja perundingan setelah ancaman Trump beredar luas. Komunikasi akhirnya terpaksa dijembatani secara tidak langsung melalui mediator dari Pakistan dan Qatar. Pihak Iran bersikeras tidak akan membahas isu nuklir sebelum AS memenuhi komitmen lain dalam MoU, termasuk pencairan aset Iran yang dibekukan dan pemberian izin ekspor minyak.
Sementara itu, pihak Amerika Serikat membantah adanya aksi walkout tersebut. Seorang diplomat AS yang dikutip Reuters menyebut delegasi Iran tetap berada di lokasi dan berunding hingga larut malam. Agenda yang dibahas mencakup situasi Selat Hormuz, konflik Lebanon, isu nuklir, hingga detail teknis implementasi MoU.
"Pembahasan tingkat tinggi dijadwalkan selesai Senin, dan selanjutnya akan diteruskan oleh tim teknis," kata seorang pejabat AS.
Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Ketegangan
Ketegangan ini sendiri dipicu oleh langkah Iran yang kembali menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada akhir pekan. Teheran menyebut keputusan itu sebagai respons atas kegagalan AS menepati janji untuk menghentikan serangan Israel di Lebanon, wilayah tempat sekutu Iran, Hizbullah, bertempur.
Meski Washington membantah adanya penutupan jalur strategis tersebut, data dari firma analitik Kpler menunjukkan dampak yang nyata.
Hanya ada lima kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz pada Minggu, merosot tajam dibandingkan 26 kapal pada hari sebelumnya.
Di saat yang sama, kantor berita Iran Fars mengonfirmasi bahwa militer setempat telah menghentikan penerbitan izin pelayaran hingga waktu yang belum ditentukan.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari US$ 1 menjadi US$ 81,66 per barel pada perdagangan Senin pagi.
