Jakarta, MI - Amerika Serikat (AS) pada Senin (22/6/2026) memutuskan mencabut sementara sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Kebijakan ini diambil tak lama setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa Iran bersedia kembali membuka akses bagi inspektur nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke wilayahnya.
Iran disebut telah sepakat mengizinkan inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk kembali melakukan pengawasan di fasilitas nuklir mereka.
Kementerian Keuangan AS menyatakan bahwa pelonggaran sanksi ini berlaku sementara hingga 21 Agustus. Dengan kebijakan tersebut, Iran dapat kembali memproduksi, menjual, serta mengirimkan minyak mentah dan produk-produk terkait lainnya.
Langkah ini muncul setelah rangkaian perundingan yang digelar di Burgenstock, Swiss, yang mempertemukan AS dan Iran dalam upaya meredakan ketegangan konflik dengan Israel.
"Kami telah meletakkan dasar yang sangat baik untuk kesepakatan akhir yang berhasil," ujar Vance kepada wartawan usai pembicaraan tersebut.
Ia menegaskan bahwa hasil yang dicapai saat ini belum merupakan kesepakatan final. "Kesepakatan akhir adalah rumahnya. Kami belum membangun rumah itu, tetapi kami telah meletakkan fondasi yang berhasil untuk menuju tempat yang baik bagi rakyat Amerika," katanya.
Vance menyebut kesediaan Iran mengundang kembali inspektur IAEA sebagai tonggak penting dan langkah pertama dalam denuklirisasi permanen Iran.
Sebelumnya, Iran sempat membatasi kerja sama dengan IAEA dan menutup akses ke sejumlah fasilitas nuklir setelah eskalasi konflik 2025 yang melibatkan AS dan Israel.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyampaikan bahwa pembahasan terkait isu nuklir masih sangat terbatas dan belum menyentuh detail teknis.
"Diskusi yang sangat singkat dilakukan terkait isu nuklir, tetapi tidak ada pembahasan mengenai rincian," tuturnya.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz kini kembali terbuka. Jalur strategis yang sempat ditutup Iran, dan mengangkut sekitar 20 persen distribusi minyak dunia sempat memicu guncangan di pasar global.
"Kami sedang bernegosiasi, kita lihat saja bagaimana hasilnya, tetapi kami sudah memiliki dua hal," ucap Trump.
"Kami punya selat yang terbuka, dan kami punya negara yang tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," sambungnya.
Kesepakatan awal perundingan ini berangkat dari nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Teheran dan Washington pekan lalu. MoU ini tercapai setelah AS dan Iran bertempur hampir 40 hari yang kemudian diikuti oleh gencatan senjata yang masih rawan goyah.
Perundingan ini bertujuan menyelesaikan sejumlah isu paling rumit yang selama puluhan tahun membayangi hubungan AS-Iran, termasuk program nuklir Teheran. Terkait aset Iran yang dibekukan, AS menjelaskan bahwa dana tersebut belum dicairkan sebagai bagian dari kesepakatan.
Namun, jika nantinya dicairkan, dana itu akan digunakan untuk membeli produk-produk AS seperti kedelai, dan tidak akan dipakai untuk mendanai terorisme.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut bahwa ekspor minyak dan produk petrokimia Iran kini dibebaskan dari sanksi, disertai pencabutan blokade serta sebagian pelepasan aset. Ia juga menyinggung rencana rekonstruksi besar untuk Iran yang mulai berjalan.
Sebagai tindak lanjut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan melakukan kunjungan ke sejumlah negara di Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain, guna membahas kesepakatan tersebut.
Juru bicara Rubio, Tommy Pigott, mengatakan kunjungan itu juga akan membahas upaya untuk menjamin transit yang aman, penuh, dan bebas melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, mediator dari Pakistan dan Qatar menyebut bahwa kedua pihak telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.
Pembicaraan teknis juga masih akan berlanjut di Swiss. "Kemajuan yang menggembirakan telah dicapai," kata kedua negara mediator itu, termasuk pembentukan jalur komunikasi khusus untuk mencegah kesalahpahaman di Selat Hormuz.
Meski Iran sempat menyatakan penutupan Selat Hormuz beberapa hari sebelumnya, data pelacakan menunjukkan aktivitas pelayaran internasional di jalur tersebut masih tetap berlangsung.
