Jakarta, MI - Venezuela dilanda dua gempa bumi kuat yang terjadi hampir bersamaan pada Rabu (24/6/2026) malam waktu setempat. Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 32 orang dan melukai lebih dari 700 lainnya.
Data Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat gempa pertama berkekuatan magnitudo 7,2, lalu kurang dari satu menit kemudian disusul gempa magnitudo 7,5. Pusat gempa berada di negara bagian Yaracuy, wilayah barat Caracas.
Pelaksana Tugas (Plt) Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, mengatakan jumlah korban diperkirakan masih akan terus bertambah seiring proses pencarian dan evakuasi yang masih berlangsung.
"Seluruh otoritas kami dan sistem perlindungan sipil saat ini tengah fokus pada tugas utama, yaitu menyelamatkan nyawa manusia," ujar Rodríguez.
"Setelah tahapan itu selesai, kami baru akan menangani segala hal yang berkaitan dengan pemulihan infrastruktur," sambungnya.
Wilayah yang paling terdampak adalah negara bagian pesisir La Guaira. Puluhan bangunan dilaporkan roboh, sementara bandara internasional utama Venezuela terpaksa ditutup karena mengalami kerusakan parah.
Pemerintah juga menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar dan mengimbau warga menunda aktivitas yang tidak mendesak. Status darurat nasional pun langsung diberlakukan mengingat besarnya dampak gempa yang disebut sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Merespons bencana ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan melalui unggahannya di platform X bahwa AS tengah "segera menerjunkan tim pencari dan penyelamat (SAR), sumber daya medis, serta bantuan kemanusiaan ke Venezuela."
Sebelumnya, Donald Trump juga sempat menyampaikan dukungannya melalui platform Truth Social. "Kami akan selalu ada untuk sahabat baru dan hebat kami," tulis Trump.
Rodríguez juga mengungkapkan bahwa sejumlah lembaga donor multilateral telah menghubungi pemerintah Venezuela untuk menawarkan bantuan, baik dalam bentuk dana maupun dukungan logistik.
Di tengah proses evakuasi, warga di kawasan Palos Grandes, Caracas timur, bahu-membahu menyelamatkan korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Rasa takut akibat gempa susulan membuat banyak keluarga memilih bertahan di luar rumah. Di saat yang sama, warga Venezuela yang berada di Kolombia dan negara lain berusaha menghubungi kerabat mereka, meski jaringan telepon sempat terputus di beberapa wilayah terdampak.
Peringatan tsunami yang sebelumnya dikeluarkan untuk kawasan Karibia akhirnya dicabut oleh NWS Pacific Tsunami Warning Center. Sementara itu, pada hari yang sama, gempa bermagnitudo 7,2 juga mengguncang Jepang bagian utara dan sempat terasa hingga Tokyo.
Selain La Guaira, dampak gempa juga dirasakan di sejumlah wilayah lain seperti Trujillo, Carabobo, Miranda, Aragua, dan Falcon. Bagi sebagian warga lanjut usia, bencana ini mengingatkan pada gempa besar tahun 1967 yang menewaskan ratusan orang.
Meski kerusakan cukup luas, hingga kini belum ada laporan gangguan pada fasilitas minyak utama Venezuela. Kilang Paraguaná yang berada sekitar 225 kilometer dari pusat gempa dilaporkan tetap beroperasi normal. Aktivitas di Pelabuhan Jose dan Kilang Puerto La Cruz juga tidak terdampak, kata salah satu sumber.
Bencana ini diperkirakan akan menambah tekanan bagi perekonomian Venezuela yang masih bergulat dengan inflasi tinggi dan masalah pasokan listrik. Kondisi tersebut semakin berat karena negara itu masih berada dalam masa transisi pemerintahan setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap dalam operasi pasukan Amerika Serikat di Caracas pada Januari lalu.
