Washington, MI– Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik terbuka kepada negara-negara anggota NATO yang dinilai tidak memberikan dukungan langsung saat Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap Iran. Kekecewaan itu disampaikan Trump saat menerima Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Ruang Oval pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat, Trump menegaskan bahwa AS mampu menjalankan operasi militernya tanpa bantuan siapa pun. Namun, ia menyayangkan minimnya dukungan dari sekutu-sekutu NATO ketika konflik dengan Iran berlangsung.
“Kami merasa kecewa. Kami tidak membutuhkan bantuan untuk melakukannya, tetapi akan lebih baik jika mereka mengatakan ingin membantu,” ujar Trump.
Menurut Trump, militer AS telah berhasil melumpuhkan target-target penting Iran sejak pekan pertama operasi. Karena itu, ia menilai negara-negara anggota NATO seharusnya menunjukkan solidaritas yang lebih kuat terhadap Washington.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari Mark Rutte. Sekjen NATO itu membela sikap negara-negara anggota aliansi dengan menegaskan bahwa Eropa tetap memainkan peran penting dalam mendukung operasi Amerika Serikat, meski tidak terlibat langsung dalam pertempuran.
Rutte mengungkapkan ribuan pesawat militer AS dapat beroperasi selama konflik berkat akses terhadap pangkalan-pangkalan militer yang berada di wilayah Eropa.
“Sulit membayangkan penanganan situasi Iran tanpa Eropa sebagai landasan proyeksi kekuatan bagi Amerika Serikat,” kata Rutte.
Selain membahas konflik Iran, Rutte juga menyoroti peningkatan anggaran pertahanan negara-negara NATO selama beberapa tahun terakhir. Ia bahkan menunjukkan data yang memperlihatkan kenaikan belanja pertahanan Eropa dan Kanada yang telah melampaui 1,2 triliun dolar AS sejak Trump menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.
Meski demikian, kritik Trump kembali memunculkan pertanyaan mengenai hubungan Washington dengan NATO. Apalagi, komentar tersebut muncul menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang akan mempertemukan para pemimpin dari 32 negara anggota di Ankara, Turki, pada 7-8 Juli mendatang.
Ketegangan diplomatik ini juga dipicu oleh fakta bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dilakukan tanpa konsultasi formal dengan NATO. Akibatnya, sejumlah negara sekutu di Eropa memilih tidak memberikan keterlibatan militer secara langsung dalam operasi tersebut.
Pernyataan Trump diperkirakan akan menjadi salah satu isu utama yang membayangi pertemuan NATO mendatang, sekaligus menguji soliditas aliansi pertahanan terbesar di dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.**
