Kyiv, MI– Jumlah korban tewas akibat serangan rudal dan drone Rusia yang menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, terus bertambah. Otoritas Ukraina melaporkan sedikitnya 27 orang meninggal dunia dan 91 lainnya mengalami luka-luka setelah rentetan serangan yang mengguncang kawasan permukiman pada Rabu (2/7/2026) malam hingga Kamis dini hari.
Ledakan beruntun terdengar di berbagai wilayah ibu kota ketika rudal dan drone Rusia menghantam sejumlah sasaran, termasuk kompleks apartemen yang dipenuhi warga sipil. Serangan tersebut menyebabkan bangunan rusak parah dan memicu operasi penyelamatan besar-besaran.
Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko, menyatakan data terbaru menunjukkan korban jiwa telah meningkat menjadi 27 orang, sementara puluhan korban luka masih menjalani perawatan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky langsung meninjau lokasi serangan, termasuk sebuah blok apartemen yang hancur akibat hantaman rudal. Di hadapan publik, Zelensky menegaskan Ukraina tidak akan tinggal diam dan akan memberikan respons terhadap serangan Rusia.
Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah serangan besar tersebut terjadi. Sebelumnya, Zelensky telah memperingatkan bahwa Moskow tengah mempersiapkan operasi militer berskala besar terhadap Ukraina.
Di tengah meningkatnya eskalasi perang, Uni Eropa bergerak mendorong pemberlakuan paket sanksi baru terhadap Rusia. Pada saat yang sama, Zelensky kembali mendesak Amerika Serikat agar memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi rudal pertahanan udara Patriot guna memperkuat kemampuan menghadapi serangan udara Rusia.
Serangan yang menewaskan puluhan warga sipil itu juga menuai kecaman keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui juru bicaranya Stephane Dujarric, menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
"Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di mana pun terjadi merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan harus segera dihentikan," tegas Dujarric.
Di sisi lain, Rusia menyatakan akan terus meningkatkan tekanan terhadap Kyiv dan tetap mempertahankan sikap keras dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun tersebut.
Rusia diketahui secara rutin meluncurkan serangan rudal dan drone ke berbagai kota di Ukraina, termasuk Kyiv, sejak invasi dimulai. Konflik yang berkepanjangan itu kini menjadi perang paling mematikan di Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia II, dengan ribuan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur dalam skala luas.**
