Jakarta, MI– Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi memberi tahu Kongres bahwa negaranya kembali terlibat dalam operasi militer terhadap Iran. Pengumuman tersebut menandai eskalasi baru konflik kedua negara setelah militer AS melancarkan serangan udara intensif ke sejumlah wilayah Iran selama tiga malam berturut-turut.
Dalam surat kepada Kongres yang dikirim pada Jumat, Trump menyampaikan bahwa pemerintahannya telah memulai kembali operasi militer terhadap Republik Islam Iran. Gedung Putih menyebut pemberitahuan itu menjadi dasar dimulainya periode baru selama 60 hari terkait kewenangan penggunaan kekuatan militer.
Trump juga menegaskan pemerintahannya tidak akan mengendurkan tekanan terhadap Teheran.
"Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras malam ini, dan kami akan menghantam mereka dengan keras besok," kata Trump dalam wawancara dengan pembawa acara radio Hugh Hewitt.
Tak lama setelah pernyataan Trump, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi pasukannya kembali menggempur sejumlah sasaran di Iran. Operasi tersebut menjadi malam ketiga berturut-turut serangan udara yang dilakukan militer AS.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menegaskan operasi militer dilakukan atas perintah langsung panglima tertinggi dan ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran.
"Serangan-serangan ini akan terus memberikan kerugian besar bagi pasukan Iran dan mengurangi kemampuan mereka untuk menyerang warga sipil yang tidak bersalah serta kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," demikian pernyataan CENTCOM.
Di tengah meningkatnya konflik, Trump juga mengklaim Amerika Serikat telah mengambil alih pengamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Menurut Trump, pemerintah AS berencana mengenakan biaya sebesar 20 persen kepada kapal-kapal kargo yang melintas sebagai imbalan atas perlindungan keamanan di kawasan tersebut. Selain itu, Washington disebut akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan melarang kapal berbendera Iran maupun kapal yang berafiliasi dengan Teheran melintasi jalur pelayaran itu.
Langkah-langkah tersebut diperkirakan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia, sehingga setiap eskalasi militer di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional maupun pasar energi global.
Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait pemberitahuan Trump kepada Kongres maupun klaim Amerika Serikat mengenai penguasaan Selat Hormuz. Sementara itu, perkembangan operasi militer kedua negara terus menjadi perhatian dunia karena dikhawatirkan dapat memicu konflik yang lebih luas di kawasan.**
