Jakarta, MI– Sebuah gerakan satir yang awalnya hanya muncul sebagai bentuk protes di media sosial kini berubah menjadi aksi politik di jalanan. Partai Kecoak (Cockroach Janta Party) di India sukses menggalang ribuan simpatisan dan turun berdemonstrasi menuntut Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mengundurkan diri.
Gerakan tersebut lahir setelah pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang memicu kemarahan publik. Dalam sidang terbuka pada Mei 2026, Surya Kant menyebut sebagian anak muda India sebagai "kecoak" yang tidak memiliki pekerjaan maupun tempat dalam profesi tertentu.
Ucapan itu langsung memantik gelombang kritik, terutama dari kalangan generasi muda yang menilai pernyataan tersebut menghina jutaan lulusan yang tengah berjuang mencari pekerjaan.
Merespons kontroversi itu, Abhijeet Dipke, lulusan Hubungan Masyarakat dari Boston University, mendirikan Cockroach Janta Party atau Partai Kecoak sebagai bentuk sindiran terhadap elit yang dianggap meremehkan persoalan pengangguran di India.
Tak disangka, gerakan satir tersebut berkembang pesat. Dukungan mengalir melalui media sosial hingga akhirnya berubah menjadi aksi demonstrasi yang menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas persoalan pendidikan dan lapangan kerja.
Dalam aksinya, massa juga mendesak Menteri Pendidikan India mundur karena dinilai gagal menjawab keresahan generasi muda mengenai tingginya angka pengangguran dan sulitnya memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
Fenomena Partai Kecoak menjadi simbol baru perlawanan anak muda India. Dari sebuah ejekan yang dilontarkan pejabat negara, gerakan ini menjelma menjadi kekuatan politik yang mampu menggerakkan massa dan menarik perhatian publik nasional.**
