Jakarta, MI – Biaya perang Amerika Serikat melawan Iran terus membengkak. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan konflik yang kembali memanas itu telah menghabiskan dana sekitar US$37,5 miliar atau setara Rp671,7 triliun, memaksa Pentagon mengajukan tambahan anggaran darurat di tengah gelombang kritik yang semakin kuat dari parlemen.
Angka tersebut disampaikan Hegseth dalam rapat dengar pendapat di Kongres AS pada Selasa (21/7/2026) waktu setempat. Ini menjadi kali pertama Menteri Pertahanan menghadapi pertanyaan langsung dari anggota parlemen sejak perang kembali berkobar, dengan banyak legislator mempertanyakan efektivitas sekaligus besarnya biaya operasi militer tersebut.
Hegseth menjelaskan nilai US$37,5 miliar mencakup berbagai komponen pembiayaan perang serta proyeksi kebutuhan operasional hingga 30 September 2026.
Meski demikian, Pentagon belum menjelaskan secara rinci metode perhitungan yang digunakan untuk menghasilkan angka tersebut. Sebelumnya, pemerintah AS memperkirakan enam hari pertama operasi militer saja telah menghabiskan sedikitnya US$11,3 miliar atau sekitar Rp202,3 triliun, menunjukkan laju pembengkakan biaya yang sangat cepat.
Di tengah meningkatnya pengeluaran militer, Presiden Donald Trump sebelumnya telah meminta Kongres menyetujui tambahan anggaran hampir US$90 miliar atau sekitar Rp1.611 triliun, dengan sebagian besar dialokasikan untuk mendukung operasi perang terhadap Iran.
Permintaan dana jumbo itu diperkirakan memicu perdebatan sengit di Capitol Hill. Sejumlah anggota Kongres menilai perang yang berkepanjangan semakin membebani keuangan negara, sementara manfaat strategisnya masih menjadi perdebatan.
Situasi politik juga membuat isu perang semakin sensitif. Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pemilu sela dalam enam bulan mendatang, sehingga besarnya biaya perang diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam pertarungan politik antara Partai Republik dan Partai Demokrat.
Partai Demokrat berupaya mengaitkan lonjakan belanja militer dengan meningkatnya beban ekonomi masyarakat, termasuk tingginya biaya hidup. Sementara Partai Republik menghadapi tantangan untuk mempertahankan mayoritas di DPR dan Senat di tengah sorotan terhadap kebijakan luar negeri pemerintahan Trump.
Dengan biaya perang yang terus melonjak dan kebutuhan anggaran tambahan yang semakin besar, konflik Iran kini tidak hanya menjadi persoalan militer, tetapi juga berubah menjadi ujian berat bagi stabilitas fiskal dan politik Amerika Serikat menjelang pemilu.**
