Jakarta, MI – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengeluarkan ultimatum keras. Setelah sempat membatalkan rencana serangan militer demi membuka peluang diplomasi, Trump kini menegaskan bahwa tekanan terhadap Teheran akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan atau "penyerahan total".
Trump mengatakan keputusan membatalkan serangan diambil setelah menerima permintaan dari sejumlah sekutu di Timur Tengah yang menginginkan ruang bagi penyelesaian diplomatik. Menurutnya, pembahasan mencakup pembukaan penuh Selat Hormuz serta penghapusan ancaman program nuklir Iran.
"Atas permintaan tersebut, saya setuju membatalkan serangan demi masa depan dunia dan demi kelangsungan Iran yang sukses dan makmur, selama kesepakatan dapat segera dicapai," kata Trump.
Namun, hanya sehari berselang, sikap Trump kembali mengeras. Ia menuduh Iran bersikap tidak jujur setelah pemerintah Teheran membantah adanya perundingan dengan Washington.
"Iran secara terbuka mengatakan bahwa tidak sedang bernegosiasi. Padahal kenyataannya, kami sedang membicarakan solusi atas masalah yang mereka ciptakan selama puluhan tahun," ujarnya.
Trump juga memastikan blokade terhadap Iran tetap diberlakukan hingga tuntutan Amerika Serikat dipenuhi.
"Tidak ada yang akan masuk ke Iran kecuali kami mengizinkannya, dan tidak akan ada yang lolos sampai tercapai kesepakatan atau penyerahan total," tegasnya.
Di sisi lain, pemerintah Iran membantah seluruh klaim tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan tidak ada pembicaraan langsung maupun agenda negosiasi dengan Amerika Serikat.
"Tidak ada negosiasi dengan AS yang sedang berlangsung maupun yang dijadwalkan," kata Baghaei.
Menurutnya, komunikasi yang dilakukan Iran saat ini hanya berkaitan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz, bukan perundingan politik dengan Washington.
Ketegangan juga terus membayangi Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Laporan terbaru menyebut sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal di kawasan tersebut, sementara aktivitas pelayaran masih berada di bawah kondisi normal.
Meski ancaman perang belum mereda, pasar keuangan sempat merespons positif ketika Trump mengumumkan penundaan serangan. Harga minyak mentah Brent dilaporkan turun sekitar 7 persen dan indeks Dow Jones mencetak rekor tertinggi. Namun para analis menilai optimisme itu masih rapuh karena situasi keamanan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Ketegangan kawasan semakin kompleks setelah pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, juga menolak kemungkinan negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel.
"Perundingan langsung antara Lebanon dan Israel tidak akan menghasilkan apa pun selain rasa malu, penghinaan, dan kompromi yang terus-menerus bagi Lebanon," ujarnya.**
