Beijing, MI – Pemerintah China resmi memperketat kontrol ekspor drone dan teknologi terkait ke Amerika Serikat (AS), memperdalam rivalitas kedua negara di tengah memanasnya persaingan teknologi dan keamanan nasional.
Kebijakan yang mulai berlaku pada 5 Agustus 2026 itu mewajibkan seluruh ekspor drone, komponen utama, serta teknologi yang masuk kategori barang dwiguna (dual-use) menjalani proses peninjauan ketat untuk setiap permohonan ekspor ke AS.
Kementerian Perdagangan China menyatakan langkah tersebut diambil untuk melindungi keamanan dan kepentingan nasional sekaligus memenuhi komitmen internasional, termasuk rezim nonproliferasi.
Dalam aturan baru tersebut, tidak ada lagi mekanisme perizinan yang dipermudah bagi ekspor drone ke AS. Setiap pengajuan akan diperiksa secara individual sebelum mendapat persetujuan.
Langkah Beijing dinilai sebagai respons langsung atas kebijakan Washington yang terus memperketat akses produk teknologi asal China ke pasar Amerika.
Baru-baru ini, Federal Communications Commission (FCC) AS memberikan persetujuan awal terhadap usulan pelarangan impor sejumlah drone militer buatan luar negeri yang secara luas diyakini menyasar produsen asal China.
Tak hanya itu, FCC juga memasukkan sejumlah perangkat teknologi canggih seperti robot humanoid, robot berkaki empat, hingga inverter daya ke dalam daftar peralatan yang dianggap berisiko terhadap keamanan nasional sehingga tidak dapat dipasarkan di Amerika Serikat.
Selain membatasi ekspor drone, China juga mengumumkan serangkaian kebijakan lanjutan, termasuk menghentikan inspeksi pascasertifikasi yang dilakukan lembaga sertifikasi asal AS di sejumlah pabrik China.
Pemerintah China juga meluncurkan penyelidikan keamanan nasional terhadap produk impor di sektor perdagangan luar negeri, dengan fokus pada mesin percetakan dan mesin fotokopi yang menggunakan perangkat lunak sistem asing.
Langkah saling membatasi akses teknologi ini menunjukkan persaingan strategis antara China dan Amerika Serikat semakin meluas, dari sektor semikonduktor hingga kini merambah industri drone, robotika, dan perangkat teknologi berteknologi tinggi.
Situasi tersebut diperkirakan akan semakin memperketat rantai pasok global sekaligus meningkatkan ketegangan dalam perang dagang dan teknologi kedua negara.**
