Jakarta, MI – Ancaman krisis pangan global diperkirakan akan semakin memburuk akibat fenomena El Nino yang menguat. Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) memperingatkan lebih dari 49 juta orang berisiko mengalami kelaparan akut hingga akhir 2027 jika dampak cuaca ekstrem terus berlanjut.
Dalam analisis terbarunya, WFP menyebut El Nino berpotensi memperparah kondisi ketahanan pangan di 45 negara yang saat ini telah menghadapi krisis pangan. Dampaknya diperkirakan mendorong jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan akut meningkat dari sekitar 225 juta menjadi 274 juta jiwa.
Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menegaskan fenomena El Nino menjadi ancaman serius bagi jutaan masyarakat yang sudah berada dalam kondisi rentan.
"El Nino merupakan ancaman besar bagi ketahanan pangan jutaan orang yang sudah rentan," kata Carl Skau.
Menurut WFP, kekeringan berkepanjangan, banjir besar, dan suhu ekstrem yang dipicu El Nino dapat memicu gagal panen, mengganggu produksi pangan, serta mendorong lonjakan harga bahan makanan sehingga memperburuk kondisi masyarakat berpenghasilan rendah.
"Banjir besar, kekeringan, serta suhu ekstrem yang dipicu El Nino dapat dengan cepat mengubah kondisi masyarakat dari sekadar bertahan hidup menjadi berada dalam situasi krisis," ujar Carl Skau.
WFP memperkirakan El Nino akan mencapai puncaknya pada September hingga Desember 2026, namun dampaknya diprediksi masih berlanjut sepanjang 2027 karena mengganggu musim tanam dan hasil panen di berbagai kawasan dunia.
Wilayah yang diperkirakan menerima dampak paling berat meliputi Amerika Tengah dan Afrika bagian selatan. Sementara Afrika Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara juga diproyeksikan mengalami tekanan serius terhadap ketahanan pangan.
Di kawasan Amerika Latin dan Karibia, lebih dari 16 juta orang diperkirakan terdampak. Sementara di Afrika Timur dan Afrika Selatan, lebih dari 18 juta orang diprediksi mengalami penurunan ketahanan pangan. Adapun di kawasan Asia dan Pasifik, sekitar 8,2 juta orang diperkirakan menghadapi kerawanan pangan akut.
Sebagai langkah antisipasi, sejak Mei 2026 WFP telah mengaktifkan program kesiapsiagaan di enam negara, yakni Sudan Selatan, Chad, Mauritania, Uganda, Guatemala, dan El Salvador. Melalui program tersebut, bantuan senilai lebih dari US$14 juta telah disalurkan kepada sekitar 500.000 orang.
WFP menegaskan investasi pada langkah mitigasi dan kesiapsiagaan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi. Menurut lembaga tersebut, setiap investasi US$1 untuk kesiapsiagaan berpotensi menghemat biaya kerugian dan respons darurat sebesar US$3 hingga US$7 di masa mendatang.**
