BREAKINGNEWS

Film Pesta Babi Ramai Diprotes, Sutradara Buka Suara

Film Pesta Babi Ramai Diprotes, Sutradara Buka Suara
Film Pesta Babi (Foto: Tangkapan Layar YouTube)

Jakarta, MI - Sutradara film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, Cypri Paju Dale, buka suara setelah film garapannya bersama Dandhy Laksono ramai menjadi perbincangan publik dalam beberapa waktu terakhir.

Cypri menilai upaya pembubaran hingga pelarangan acara nonton bareng dan diskusi film kemungkinan dipicu oleh penggunaan istilah “kolonialisme” dalam judul film tersebut.

Menurutnya, dokumenter itu memang dibuat untuk menggambarkan kondisi masyarakat adat di Papua agar bisa lebih dipahami oleh masyarakat luas.

"Film ini memang sedang dicegah oleh sejumlah pihak untuk sampai kepada penonton yang luas. Banyak pihak yang berusaha agar apa yang terjadi di Papua tidak diketahui oleh masyarakat luas, oleh dunia yang luas," jelas Cypri dalam video yang diunggah di akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru, Jumat (15/5/2026).

"Barangkali sumber keberatan atas film ini adalah karena di dalamnya kami memakai istilah kolonialisme pada judul dan kepada seluruh rangka analisis yang dirajut dalam keseluruhan cerita film," ujarnya.

Terkait polemik tersebut, Cypri menjelaskan bahwa film Pesta Babi merupakan dokumenter yang disusun berdasarkan riset sejarah dan antropologi, lalu dipadukan dengan investigasi jurnalistik serta analisis kebijakan.

Cypri mengatakan istilah “kolonialisme” digunakan karena diperlukan kerangka analisis untuk memahami situasi Papua secara mendalam dan menyeluruh.

Menurutnya, berbagai istilah yang selama ini sering digunakan seperti konflik, pelanggaran HAM, kurangnya pembangunan, deforestasi, dan militerisme, tidak memadai untuk merangkum secara utuh dan sistematis tentang apa yang terjadi di Papua.

"Kolonialisme sebagai sebuah rangka berpikir atau rangka analisis berhasil merangkum semua masalah itu, dan menjelaskan bahwa semuanya terkait satu sama lain dalam sesuatu yang bersifat sistemik yang sudah berlangsung lama dan tidak bisa ada solusinya kalau hanya diselesaikan dengan menyelesaikan salah satu dari persoalan yang tadi," tuturnya.

Ia juga menyebut kolonialisme atau penjajahan adalah rangka berpikir atau rangka analisis yang telah lama dipakai orang Papua itu sendiri dalam merumuskan pengalaman interaksi mereka dengan Indonesia juga dengan bangsa-bangsa lain.

Selain itu, poin kedua yang disampaikan Cypri adalah mengenai fakta-fakta yang tersaji itu mungkin akan menggugah baik di mata warga yang baik-kritis, hingga pemerintah dan aparat militer.

"Mungkin mengganggu bagi kita yang merasa sebagai warga yang baik, yang kritis, yang bersolidaritas terhadap orang Papua. Karena, film ini membuat kita harus menjawab pertanyaan apakah Indonesia memang melakukan penjajahan di Papua? Ini pertanyaan sederhana namun sulit," kata dia.

Menurut Cypri, pertanyaan tersebut sudah seharusnya dibahas secara terbuka dan jujur dengan berlandaskan pada UUD 1945 yang menyebut 'penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan'.

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang dirilis pada 2026 diproduksi oleh Ekspedisi Indonesia Baru. 

Ekspedisi Indonesia Baru adalah sebuah gerakan perjalanan sambil merekam kondisi nusantara yang digawangi sejumlah jurnalis senior seperti Dhandy dan Farid Gaban.

Dokumenter itu mengangkat tentang masyarakat adat di Indonesia dan perjuangan hak atas lahan mereka.

Salah satu isu yang paling disorot dalam dokumenter tersebut adalah proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan. Program itu dinilai sejumlah pihak memiliki dampak terhadap lingkungan serta hak-hak masyarakat adat.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Film Pesta Babi Ramai Diprotes, Sutradara Buka Suara | Monitor Indonesia