Mayapada “Sakit”: Pendapatan Tembus Rp2,58 T, Tapi Rugi Rp199 M — Bosnya Pernah Terseret Kasus Pajak!
-berjalan-meninggalkan-gedung-merah-putih-kpk-usai-menjalani-pemeriksaan-di-jakarta,-kamis-(11/5/2023).-grace-yang-merupakan-putri-pendiri-mayapada-group-dato-sri-tahir-dan-pendiri-lippo-group.webp)
Jakarta, MI - Kinerja PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), emiten pengelola Mayapada Hospital, memantik tanda tanya besar.
Di tengah pertumbuhan pendapatan yang positif, perusahaan justru mencatat lonjakan kerugian ekstrem sepanjang 2025—sebuah ironi yang memunculkan dugaan lemahnya kontrol biaya dan tekanan finansial serius.
Pendapatan Naik, Tapi Rugi Meledak Tak Terkendali
Sepanjang tahun buku 2025, SRAJ mencatat pendapatan bersih sebesar Rp2,58 triliun atau tumbuh 10,63 persen dibandingkan Rp2,34 triliun pada tahun sebelumnya. Secara kasat mata, angka ini menunjukkan ekspansi bisnis yang masih berjalan.
Namun di balik itu, realitasnya jauh lebih kelam. Perseroan justru membukukan rugi bersih Rp199 miliar—melonjak drastis 746,34 persen dari Rp23,51 miliar pada periode sebelumnya. Rugi per saham dasar ikut terdongkrak tajam menjadi Rp16,31 dari sebelumnya Rp1,96.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan pendapatan tidak diikuti efisiensi biaya. Bahkan, ada indikasi struktur biaya yang semakin tidak terkendali.
Beban Membengkak jadi Biang Kerok
Sumber utama tekanan berasal dari lonjakan berbagai pos beban. Beban pokok pendapatan meningkat menjadi Rp1,53 triliun dari Rp1,42 triliun. Meski laba kotor masih tumbuh menjadi Rp1,05 triliun, angka tersebut tidak mampu menahan gelombang biaya lanjutan.
Beban penjualan naik menjadi Rp53,94 miliar dari Rp44,77 miliar. Namun yang paling mencolok adalah beban umum dan administrasi yang melonjak tajam menjadi Rp922,33 miliar dari Rp689,15 miliar—kenaikan ratusan miliar yang langsung menggerus laba usaha.
Dampaknya, laba usaha anjlok dari Rp157,74 miliar menjadi hanya Rp85,48 miliar.
Tekanan semakin berat ketika muncul beban keuangan baru sebesar Rp210,92 miliar, yang sebelumnya nihil. Beban ini berkaitan dengan amortisasi bunga efektif dan biaya transaksi surat utang—indikasi adanya peningkatan pembiayaan berbasis utang.
Tak hanya itu, beban lain-lain juga tercatat Rp176,63 miliar, memperparah tekanan terhadap bottom line.
Struktur Keuangan Mengkhawatirkan: Utang Melonjak, Ekuitas Tergerus
Dari sisi neraca, kondisi SRAJ menunjukkan tekanan struktural. Total aset memang naik menjadi Rp7,62 triliun dari Rp5,68 triliun, namun kenaikan ini diiringi lonjakan liabilitas yang jauh lebih agresif—dari Rp3,84 triliun menjadi Rp6,28 triliun.
Sebaliknya, ekuitas justru turun signifikan menjadi Rp1,33 triliun dari Rp1,83 triliun.
Artinya, pertumbuhan aset tidak berasal dari penguatan modal, melainkan dari penambahan utang. Situasi ini meningkatkan risiko leverage dan memperbesar beban keuangan ke depan.
Kontribusi Pendapatan: Jabodetabek Masih Jadi Tulang Punggung
Pendapatan terbesar SRAJ masih berasal dari layanan rawat inap sebesar Rp2,08 triliun dan rawat jalan Rp1,41 triliun, dengan pengurang biaya jasa tenaga ahli Rp912,13 miliar.
Secara geografis, wilayah Jabodetabek mendominasi dengan kontribusi Rp2,04 triliun, sementara luar Jabodetabek hanya Rp545,24 miliar. Ketergantungan pada satu wilayah ini juga menjadi catatan risiko tersendiri jika terjadi perlambatan di pasar utama.
Bayang-bayang Kasus Hukum: Nama Grace Tahir Muncul dalam Penyidikan
Di tengah tekanan finansial tersebut, sorotan publik semakin tajam setelah nama Grace Tahir ikut terseret dalam pusaran kasus hukum.
Catatan Monitorindonesia.com, bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi pernah memeriksa Grace pada Kamis (11/5/2023) silam sebagai saksi dalam perkara dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat mantan pejabat pajak Rafael Alun Trisambodo.
Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur, menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari pengembangan penyidikan.
“Masih kita telusuri terkait aliran dana dan hal lainnya. Kita menemukan nama yang bersangkutan dalam proses penyidikan, lalu kita lakukan klarifikasi,” ujar Asep saat itu.
KPK menegaskan bahwa seluruh pihak yang dianggap memiliki informasi relevan akan dipanggil untuk diperiksa, termasuk Grace Tahir.
Meski demikian, status Grace saat itu masih sebagai saksi. Penyidik masih mendalami apakah terdapat hubungan transaksi atau aliran dana yang berkaitan dengan tersangka Rafael Alun.
Grace Tahir diketahui menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK selama lebih dari tiga jam, dari pukul 10.04 WIB hingga 13.27 WIB.
Namun, usai pemeriksaan, ia memilih tidak memberikan pernyataan kepada awak media. Sikap bungkam ini justru memicu spekulasi publik di tengah sensitifnya kasus yang tengah diselidiki.
Profil Singkat Grace Tahir: Anak Konglomerat di Pusaran Sorotan
Grace Tahir atau Grace Dewi Riady merupakan salah satu tokoh penting di balik bisnis kesehatan Mayapada Group.
Ia adalah putri dari pengusaha besar Dato Sri Tahir, pemilik Mayapada Group, dan cucu dari keluarga besar konglomerat Lippo.
Grace menjabat sebagai Direktur Mayapada Hospitals, CEO Medico, serta Komisaris Utama Maha Properti Indonesia. Ia dikenal aktif dalam pengembangan bisnis kesehatan dan digitalisasi layanan medis.
Meski berasal dari keluarga konglomerat dengan kekayaan mencapai miliaran dolar AS, Grace kerap menampilkan gaya hidup sederhana di ruang publik.
Sekadar catatan bahwa kondisi yang dihadapi SRAJ saat ini bukan sekadar persoalan angka kerugian. Ada dua tekanan besar yang muncul secara bersamaan:
Pertama, tekanan finansial akibat lonjakan beban dan utang yang menggerus profitabilitas. Kedua, tekanan reputasi akibat terseretnya nama petinggi perusahaan dalam kasus hukum yang sedang diselidiki aparat penegak hukum.
Kombinasi ini berpotensi mengganggu kepercayaan investor, kreditor, hingga pasien sebagai pengguna layanan. Jika tidak segera diatasi, situasi ini bisa berkembang menjadi krisis yang lebih dalam—baik dari sisi keuangan maupun citra perusahaan.
Kasus Mayapada Hospital menjadi contoh nyata bahwa pertumbuhan pendapatan tidak selalu sejalan dengan kesehatan bisnis. Ketika biaya membengkak dan risiko eksternal muncul bersamaan, fondasi perusahaan bisa goyah dalam waktu singkat.
Topik:
