BREAKINGNEWS

Dari Kritik ke Kematian: Ermanto Dibungkam?

Dari Kritik ke Kematian: Ermanto Dibungkam?
Mabes Polri. (Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Kematian Ermanto Usman (65) di rumahnya di Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, menyisakan lebih dari sekadar duka. Di balik peristiwa yang awalnya diselimuti dugaan perampokan, muncul jejak panjang kritik, konflik, dan suara keras yang selama ini ia gaungkan hingga akhirnya terhenti.

Ermanto bukan nama asing di lingkungan pekerja pelabuhan. Pensiunan PT Jakarta International Container Terminal (JICT) itu dikenal sebagai mantan Manager HRD sekaligus aktivis buruh yang tak segan menentang kebijakan yang dianggap menyimpang. Bahkan, menurut keluarganya, sikap vokal itu sempat membuatnya dua kali dipecat meski kemudian dibatalkan oleh Kementerian Perhubungan.

“Dia dipecat karena mengkritik kebijakan yang tidak sesuai prosedur,” kata kakaknya, Dalsaf Usman dikutip Senin (6/4/2026).

Alih-alih meredup setelah pensiun, suara Ermanto justru semakin lantang. Ia aktif menyuarakan dugaan praktik korupsi di tubuh Pelindo, termasuk polemik perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan Hong Kong, Hutchison Port Holdings (HPH). Kritik-kritik itu tak hanya disampaikan di forum internal, tapi juga terbuka ke publik melalui podcast dan kanal digital.

Salah satu pernyataan terakhirnya muncul dalam tayangan YouTube Forum Keadilan TV pada Desember 2025. Dalam program tersebut, Ermanto secara gamblang menyinggung dugaan lobi-lobi elite dan peran pihak tertentu dalam perpanjangan kontrak pelabuhan.

Putranya, Fiandy A Putra, mengakui aktivitas sang ayah bukan tanpa risiko. “Bapak mencoba membuka kebenaran dan memperjuangkan orang-orang di lapangan. Kami paham betul risikonya,” ujarnya.

Risiko itu kini terasa nyata. Pada 2 Maret 2026, Ermanto ditemukan tewas di rumahnya, sementara istrinya, Pasmilawati (60), dalam kondisi kritis. Namun, narasi perampokan yang sempat mencuat mulai dipertanyakan.

Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka menilai ada kejanggalan dalam kasus tersebut. “Tidak ada barang hilang. Jangan diframing sebagai perampokan,” tegasnya. Ia mendesak aparat penegak hukum tidak berhenti pada pelaku lapangan, tetapi juga mengusut kemungkinan adanya aktor intelektual di balik peristiwa ini.

Di sisi lain, kepolisian mengakui penyelidikan berjalan dengan keterbatasan. Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota Kompol Andi Muhammad Iqbal menyebut minimnya barang bukti menjadi kendala utama. Tidak adanya CCTV di rumah korban serta minimnya saksi membuat identifikasi pelaku belum menemukan titik terang.

“CCTV di sekitar juga tidak merekam pelaku. Arah kamera hanya ke pekarangan masing-masing rumah,” ujarnya.

Kematian Ermanto kini berdiri di persimpangan: antara kriminal biasa atau sesuatu yang lebih kompleks. Namun satu hal yang pasti—suara kritik yang selama ini menggema dari dalam sistem pelabuhan, kini terdiam secara misterius.

Topik:

Didin Alkindi

Penulis

Video Terbaru

Dari Kritik ke Kematian: Ermanto Dibungkam? | Monitor Indonesia