BREAKINGNEWS

Vokal Soal Dugaan Korupsi, Aktivis Pensiunan JICT Tewas Misterius di Bekasi

Vokal Soal Dugaan Korupsi, Aktivis Pensiunan JICT Tewas Misterius di Bekasi
Sosok Ermanto Usman saat hadir di sebuah siniar di kanal YouTube. (Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Pensiunan Jakarta International Container Terminal (JICT) itu ditemukan tewas di rumahnya di kawasan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, pada 2 Maret 2026.

Di saat yang sama, istrinya, Pasmilawati (60), ditemukan dalam kondisi kritis. Hingga kini, misteri di balik kematian Ermanto belum terkuak, sementara jejak kritik tajam yang ia lontarkan sebelum wafat justru mengemuka.

Ermanto bukan sosok biasa. Semasa aktif bekerja, ia menjabat sebagai Manager HRD JICT dan dikenal sebagai figur vokal dalam serikat buruh.

Bahkan, menurut keluarga, ia sempat dua kali dipecat karena keberaniannya mengkritik kebijakan internal yang dianggap menyimpang, sebelum akhirnya keputusan itu dibatalkan oleh Menteri Perhubungan.

“Dia dipecat karena mengkritik kebijakan yang tidak sesuai prosedur,” ujar kakaknya, Dalsaf Usman dikutip Senin (6/4/2026).

Sikap kritis itu tak luntur meski telah pensiun. Dalam beberapa waktu terakhir, Ermanto aktif menyuarakan dugaan korupsi di lingkungan Pelindo, termasuk melalui berbagai forum publik dan podcast. Ia bahkan menyinggung isu sensitif terkait perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan asal Hong Kong, Hutchison Port Holdings (HPH).

Putranya, Fiandy A. Putra (33), mengungkapkan bahwa sang ayah sangat antusias menyuarakan isu-isu tersebut, meski keluarga memahami risiko yang mengintai.

“Apa yang dilakukan ayah saya adalah upaya membuka kebenaran. Tapi kami juga tahu risikonya seperti apa,” katanya.

Salah satu pernyataan terakhir Ermanto terekam dalam podcast Forum Keadilan TV pada Desember 2025. Dalam tayangan itu, ia menyinggung dugaan praktik lobi dan keterlibatan sejumlah pihak dalam pengelolaan pelabuhan.

Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menyebut Ermanto tengah kembali mengangkat isu dugaan korupsi di sektor pelabuhan yang sebelumnya diduga “dipeti-eskan”.

“Beberapa waktu ke belakang beliau kembali bersuara di podcast terkait kasus tersebut,” kata Rieke.

Ia pun meragukan kematian Ermanto sebagai tindak kriminal biasa. Menurutnya, tidak ada indikasi kuat perampokan karena tidak ditemukan barang berharga yang hilang secara signifikan.

“Jangan diframing ini perampokan. Tidak ada barang hilang,” tegasnya.

Rieke mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini, tidak hanya berhenti pada pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap kemungkinan aktor intelektual di baliknya.

Sementara itu, pihak kepolisian mengakui penyelidikan menghadapi hambatan. Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, menyebut minimnya barang bukti menjadi kendala utama.

“Di rumah korban tidak ada CCTV, saksi juga sangat minim,” ujarnya.

Upaya penelusuran melalui kamera pengawas di sekitar lokasi pun belum membuahkan hasil. Tidak ada rekaman yang mengarah pada identitas pelaku.

“Semua CCTV hanya mengarah ke pekarangan masing-masing, tidak ada yang menangkap gambar terduga pelaku,” katanya.

Di tengah kebuntuan itu, satu hal justru semakin terang: sebelum ajal menjemput, Ermanto berada di garis depan menyuarakan dugaan korupsi yang menyentuh kepentingan besar. Kini, kematiannya menyisakan lebih dari sekadar duka ia menjadi tanda tanya besar tentang keberanian, risiko, dan keadilan yang belum menemukan jawabannya.

 

Topik:

Didin Alkindi

Penulis

Video Terbaru