Jakarta, MI – Di tengah badai kasus dugaan korupsi yang mengguncang Badan Gizi Nasional (BGN), mantan Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya meninggalkan pesan yang kini memantik tanda tanya publik.
Hanya beberapa saat sebelum resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan Kejaksaan Agung, Sony menulis ucapan selamat kepada Kepala BGN yang baru, Nanik S Deyang.
Namun, bukan ucapan selamat itu yang menjadi perhatian. Kalimat pendek yang ditulis Sony justru memunculkan beragam tafsir.
"Kepada Yth. Ibu Nanik S Deyang, selamat atas jabatan baru sebagai Kepala BGN. Terima kasih atas hadiah indah yang telah diberikan kepada saya," tulis Sony dalam secarik kertas yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya sebagaimana dikutip Monitorindonesia.com, Kamis (4/6/2026).
Kalimat "terima kasih atas hadiah indah yang telah diberikan kepada saya" langsung menjadi sorotan. Di tengah statusnya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi, publik mempertanyakan apa yang dimaksud Sony dengan "hadiah indah" tersebut.
Apakah sekadar ungkapan pribadi? Sindiran? Atau pesan yang menyimpan makna lebih dalam? Hingga kini, Sony tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Dalam unggahan yang sama, Sony tetap memberikan ucapan selamat kepada Nanik S Deyang yang baru ditunjuk menggantikan Dadan Hindayana.
Ia mendoakan agar Nanik diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan tugas memimpin lembaga yang kini sedang diterpa skandal besar.
"Sebuah kebahagiaan melihat sahabat dan rekan saya yang baik mendapatkan amanah yang lebih besar untuk mengabdi kepada bangsa," tulisnya.
Sony juga berpesan agar Nanik menjalankan amanah dengan baik dan terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Namun publik menilai, di tengah proses hukum yang sedang berjalan, pesan tersebut sulit dilepaskan dari konteks kasus yang menyeret sejumlah petinggi BGN.
Sebelumnya, Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana, Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung, dan Sony Sanjaya sebagai tersangka dalam dugaan korupsi praktik jual beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kasus ini menjadi pukulan telak bagi lembaga yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memastikan program pemenuhan gizi masyarakat berjalan bersih dan tepat sasaran.
Alih-alih menjadi contoh tata kelola yang baik, sejumlah petingginya justru berakhir di hadapan penyidik.
Kini publik menunggu lebih dari sekadar penetapan tersangka. Yang ditunggu adalah pengungkapan menyeluruh: siapa saja yang menikmati keuntungan dari praktik tersebut, bagaimana skema permainan berlangsung, dan apakah masih ada pihak lain yang akan ikut dimintai pertanggungjawaban hukum.

