RDF Rorotan Bikin Resah Petani: Udara dan Air Sawah Tercemar

Jakarta, MI - Fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar, atau Refuse Derived Fuel (RDF), yang berlokasi di Rorotan, Jakarta Utara, kini mulai menuai keluhan dari warga sekitar.
Meski digadang-gadang sebagai solusi atas masalah sampah di Jakarta, fasilitas ini diduga menimbulkan efek negatif bagi kesehatan warga dan merusak lahan pertanian di sekitarnya.
Seorang petani yang tinggal di Karang Tengah, hanya sekitar 100-200 meter dari lokasi RDF, menyampaikan kekhawatirannya. Ia mengatakan bahwa bau menyengat dari tumpukan sampah sangat mengganggu, terutama pada tahap awal uji coba operasional fasilitas tersebut.
Dampak polusi udara tersebut dirasakan langsung oleh keluarganya. Istrinya mengalami sesak napas yang parah akibat bau sampah yang menusuk.
"Baunya menyengat sekali, sampai istri saya tidak kuat napas. Katanya napasnya 'nyengrak' (tertahan) di tenggorokan," kata petani tersebut saat diwawancarai di lokasi persawahan, Rabu (4/3/2026).
Tak hanya sang istri, anaknya juga mengalami batuk-batuk akibat kualitas udara yang memburuk. Ia mengaku sempat panik dan harus membeli obat-obatan di malam hari demi meredakan gejala yang dialami keluarganya.
"Saya lihat istri saya sampai tidak tega. Sempat batuk juga, akhirnya saya belikan obat warung biar agak mendingan. Alhamdulillah reda, tapi baunya itu memang kuat sekali," ungkapnya.
Selain itu, operasional RDF juga dikhawatirkan mencemari sumber air irigasi pertanian.
Petani setempat menyoroti perubahan kondisi air di Kali Gendong, yang kini tampak hitam pekat, kondisi yang sebelumnya tidak pernah terjadi. "Air di Kali Gendong itu hitam banget. Biasanya tidak sehitam ini," kata dia.
Perubahan kualitas air ini memicu kecemasan di kalangan kelompok tani, karena mereka terpaksa menggunakan air yang diduga tercemar tersebut untuk mengairi sawah mereka.
Petani khawatir pencemaran ini bisa berdampak pada kualitas padi, bahkan berpotensi menyebabkan gagal panen, mengingat ini adalah pertama kalinya mereka bercocok tanam berdampingan dengan operasional RDF.
"Jujur kami khawatir. Kami belum pernah mencoba tanduran (tanaman) kena air limbah RDF. Kita belum tahu hasilnya nanti bagaimana, karena belum panen," tuturnya.
Meski merasakan dampak negatif, para petani memilih untuk tidak langsung melakukan protes tanpa bukti yang jelas. Mereka lebih memilih menunggu hasil panen untuk melihat dampak nyata terhadap pertanian mereka.
"Kami tidak mau langsung menuduh tanpa bukti. Kita lihat prosesnya dulu. Kalau nanti terbukti ada dampak (gagal panen), baru kami akan protes melalui jalur kelompok tani atau Gapoktan," tegasnya.
Terkait drainase, petani mengakui adanya upaya pembersihan eceng gondok oleh petugas “Pasukan Oranye” dari dinas terkait di sekitar Malaka dan Marunda. Namun, mereka menilai belum ada perbaikan signifikan pada saluran air atau gorong-gorong untuk mencegah pencemaran lebih lanjut ke area persawahan.
Warga berharap pemerintah dan pengelola RDF segera mengambil langkah mitigasi agar fasilitas pengolahan sampah ini tidak mengorbankan kesehatan masyarakat maupun mata pencaharian petani setempat.
Topik:
