Jakarta, MI— Kebakaran hebat yang melanda kawasan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat, menyisakan kehancuran besar. Sebanyak 304 bangunan yang dihuni ratusan keluarga hangus terbakar hingga rata dengan tanah setelah api berkobar selama tujuh jam sejak Senin (1/6/2026) malam hingga Selasa (2/6/2026) dini hari.
Saat api berhasil dipadamkan, lokasi kebakaran berubah menjadi lautan puing. Tumpukan abu, seng hangus, dan kayu terbakar tampak memenuhi kawasan padat penduduk tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sedikitnya 354 kepala keluarga (KK) terdampak dalam musibah ini. Sebanyak 620 warga kini terpaksa mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.
“Sebanyak 304 bangunan hangus terbakar. Ada delapan korban luka terdiri dari enam perempuan dan dua laki-laki,” ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, Selasa.
Korban luka telah mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Hermina.
620 Warga Mengungsi
Untuk menangani para korban, Pemprov DKI Jakarta mendirikan 14 tenda pengungsian di lapangan serbaguna milik pengusaha Jusuf Hamka atau Babah Alun yang berada sekitar 200 meter dari lokasi kebakaran.
Selain tenda, bantuan makanan siap saji dan ratusan dus air mineral juga mulai disalurkan kepada para pengungsi.
Kebakaran ini tidak hanya meluluhlantakkan rumah tinggal, tetapi juga memutus sumber penghidupan warga yang selama puluhan tahun menetap di kawasan tersebut.
Salah satu korban, Kotnawi (66), mengaku kehilangan delapan rumah sekaligus dalam kebakaran tersebut. Seluruh bangunan miliknya habis dilalap api tanpa tersisa.
“Semuanya habis. Ada delapan rumah,” ujar Kotnawi sambil memeriksa puing-puing rumahnya.
Delapan bangunan itu terdiri dari rumah yang ia tempati sendiri, rumah keluarga, hingga kontrakan yang menjadi sumber penghasilannya.
Kotnawi yang sehari-hari berdagang seragam sekolah di Pasar Jiung berharap pemerintah membantu warga membangun kembali rumah mereka.
“Mau bangun lagi kalau ada bantuan. Saya mohon bantuan untuk memperbaiki,” katanya.
Di tengah musibah tersebut, sejumlah warga juga mengakui bahwa lahan yang mereka tempati selama ini merupakan milik pemerintah pusat, tepatnya Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg).
Warga bernama Lilis (46) mengatakan dirinya sudah tinggal di kawasan Kemayoran Gempol sejak 1999 meski menyadari status tanah tersebut milik pemerintah.
“Kalau digusur ya bareng-bareng, karena tanahnya tanah pemerintah. Saya cuma numpang bangun,” ujarnya.**

