BREAKINGNEWS

Jakarta Darurat Polusi, AQI Tembus 183 dan Terburuk di Dunia Pagi Ini

Jakarta Darurat Polusi, AQI Tembus 183 dan Terburuk di Dunia Pagi Ini
Warga pakai masker akibat polusi udara Jakarta

Jakarta, MI– Kualitas udara Ibu Kota kembali berada di titik mengkhawatirkan. Pada Rabu (24/6/2026) pagi, Jakarta tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia berdasarkan pemantauan situs IQAir.

Data pada pukul 06.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai angka 183 dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 sekitar 100 mikrogram per meter kubik. 

Angka tersebut menempatkan Jakarta dalam kategori tidak sehat dan berisiko bagi kesehatan masyarakat.

Kondisi ini menjadi ancaman serius, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika harus beraktivitas di area terbuka.

Dalam daftar kota paling berpolusi di dunia pagi ini, Jakarta berada di posisi teratas, mengungguli Doha, Qatar, yang mencatat AQI 176. Posisi berikutnya ditempati Lahore, Pakistan, dengan AQI 171 dan Manama, Bahrain, dengan AQI 162.

Situasi tersebut kembali menegaskan bahwa persoalan polusi udara masih menjadi tantangan besar bagi Jakarta di tengah upaya transformasi menuju kota global.

Di sisi lain, cuaca Jakarta sepanjang hari diperkirakan didominasi kondisi berawan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan ringan berpotensi turun pada sore hari di sebagian besar wilayah Jakarta, termasuk Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara. Suhu udara diperkirakan berada pada kisaran 24 hingga 30 derajat Celsius.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggenjot sejumlah langkah pengendalian emisi. Salah satunya melalui perluasan layanan Transjabodetabek untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang selama ini menjadi penyumbang utama polusi.

Selain itu, Pemprov DKI juga mempercepat program elektrifikasi transportasi publik dengan target 10.000 bus listrik Transjakarta beroperasi pada 2030. Langkah ini dinilai penting karena sektor transportasi menyumbang hampir separuh emisi pencemar udara di Jakarta.

Upaya lain dilakukan melalui optimalisasi fasilitas pengolahan sampah Refused Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, guna menekan sumber pencemar sekaligus memperbaiki sistem pengelolaan sampah perkotaan.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Jakarta Darurat Polusi, AQI Tembus 183 dan Terburuk di Dunia | Monitor Indonesia