BREAKINGNEWS

Kenang Masa Kecil di 'Gang Tai', Rano Karno Minta Jakarta Akhiri Buang Air Sembarangan

Kenang Masa Kecil di 'Gang Tai', Rano Karno Minta Jakarta Akhiri Buang Air Sembarangan
Kenang Masa Kecil di 'Gang Tai', Rano Karno Minta Jakarta Akhiri Buang Air Sembarangan

Jakarta, MI– Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkap fakta yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah besar ibu kota. Meski Jakarta telah berkembang menjadi kota metropolitan, praktik buang air besar sembarangan (BABS) ternyata masih ditemukan di sejumlah kawasan padat penduduk.

Hal itu disampaikan Rano saat menghadiri Deklarasi Open Defecation Free (ODF) atau kawasan bebas buang air besar sembarangan di RPTRA Mandala, Kelurahan Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Senin (29/6/2026).

Dalam sambutannya, Rano mengenang masa kecilnya di kawasan Kemayoran yang saat itu dikenal masyarakat dengan sebutan "Gang Tai" karena warganya terbiasa membuang hajat langsung ke saluran air.

"Saya lahir di Kebon Dalem Gang 7, daerah Kemayoran pada tahun 1960. Waktu itu kampung saya terkenal dengan 'Gang Tai', maaf. Karena memang waktu itu kami kalau buang air di got," ujar Rano.

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya sudah menjadi masa lalu. Namun kenyataannya, hingga tahun 2026 masih ada sejumlah wilayah di Jakarta yang menghadapi persoalan sanitasi serupa.

Meski demikian, Rano mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memperbaiki lingkungan dan membangun fasilitas sanitasi yang lebih layak.

"Tapi bagi saya, mari kita perbaiki, tidak ada kata terlambat. Saya melihat yang penting sudah mulai ada kesadaran berubah sekarang," katanya.

Rano menyebut perubahan itu mulai terlihat dari berkurangnya jumlah Rukun Warga (RW) yang masuk kategori kumuh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta sebelumnya memiliki hampir 468 RW kumuh pada periode 2017–2026.

Dalam satu setengah tahun terakhir, kata dia, jumlah tersebut berhasil ditekan hampir 50 persen hingga kini tersisa 211 RW.

"Alhamdulillah, dalam waktu satu setengah tahun kami ada di Jakarta, kami bisa menekan hampir 50 persen. Sekarang RW kumuh di Jakarta tinggal 211. Itu menandakan bukan hebat gubernur, bukan hebat wakil gubernur, tapi hebatnya masyarakat ingin berubah," ujarnya.

Perubahan pola pikir warga juga terlihat dari tingginya permintaan pembangunan fasilitas sanitasi. Rano mengungkapkan PT Paljaya menerima sekitar 1.200 proposal dari masyarakat untuk pembangunan bilik mandi, cuci, kakus (MCK) komunal.

Menurutnya, angka tersebut menunjukkan semakin banyak warga yang menyadari pentingnya sanitasi sehat sebagai bagian dari peningkatan kualitas hidup.

Rano juga mengingatkan bahwa persoalan sanitasi tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Ia menyoroti tingginya kasus Tuberkulosis (TBC) di Jakarta yang disebutnya memiliki keterkaitan erat dengan kondisi lingkungan yang padat dan tidak sehat.

"Hampir rata-rata TBC itu berangkat dari keluarga, dari sanitasi, dari lingkungan. Di Jakarta ini ada beberapa wilayah yang tidak pernah terkena matahari. Gang sempit, gelap gulita, rumah tanpa jendela, ada di Jakarta. Pelan-pelan mari kita perbaiki," tegasnya.

Rano mengaku terkejut ketika mengetahui Jakarta masih berada di peringkat lima besar provinsi dengan kasus TBC tertinggi di Indonesia. Karena itu, ia menilai pembenahan sanitasi, penyediaan akses MCK yang layak, serta penataan kawasan kumuh harus menjadi prioritas agar kualitas kesehatan masyarakat ibu kota dapat terus meningkat.

Baginya, keberhasilan Jakarta bukan hanya diukur dari pembangunan gedung pencakar langit, tetapi juga dari kemampuan memastikan seluruh warganya memiliki akses terhadap sanitasi yang layak dan lingkungan yang sehat.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Kenang Masa Kecil di 'Gang Tai', Rano Karno Minta Jakarta Ak | Monitor Indonesia