Jakarta, MI– Tragedi yang merenggut nyawa seorang bocah berusia empat tahun di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, berbuntut penghentian sementara aktivitas pembangunan. Polisi memasang garis pembatas di lokasi proyek pembangunan lapangan multifungsi setelah korban meninggal dunia usai terjebak selama hampir empat jam di dalam lubang sempit.
Pantauan di lokasi pada Senin (29/6/2026), area proyek tampak lengang tanpa aktivitas pekerja. Garis polisi membentang mengelilingi lokasi, sementara sejumlah material bangunan masih berserakan di tengah lapangan yang rencananya akan dijadikan lapangan futsal.
Lubang yang sebelumnya menjadi lokasi jatuhnya korban sudah tidak lagi terlihat karena telah ditimbun tanah. Namun, sejumlah bagian penutup proyek tampak terbuka setelah proses evakuasi menggunakan alat berat dilakukan pada malam kejadian.
Seorang warga setempat, Parmi, mengatakan proses penyelamatan memaksa petugas membongkar sebagian area proyek.
"Sekarang memang terbuka karena kemarin alat berat dipakai untuk menolong korban. Sebelumnya area itu tertutup rapat karena masih proyek," ujarnya.
Menurut Parmi, peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 23.00 WIB saat korban bersama beberapa temannya masih bermain di sekitar lokasi pembangunan. Minimnya ruang bermain membuat anak-anak kerap mendekati area proyek meski telah dipasangi pembatas.
"Mereka memang mau masuk ke area proyek. Awalnya warga tidak tahu ada yang jatuh. Baru setelah temannya teriak minta tolong, semua langsung keluar rumah," katanya.
Warga yang panik sempat berupaya menyelamatkan korban menggunakan cangkul, tali, dan peralatan seadanya. Namun, sempitnya diameter lubang serta kondisi tanah yang licin membuat usaha tersebut gagal sehingga petugas pemadam kebakaran dipanggil ke lokasi.
"Kami sudah coba menggali dan pakai tali, tapi tidak bisa karena licin. Akhirnya memanggil damkar," tutur Parmi.
Proses evakuasi berlangsung dramatis. Diameter lubang yang hanya sekitar 30 sentimeter membuat petugas kesulitan menjangkau tubuh korban. Alat berat akhirnya dikerahkan untuk menggali tanah secara perlahan agar korban tidak tertimbun material.
"Lubangnya kecil sekali, kira-kira sebesar tabung gas tiga kilogram. Makanya petugas sangat hati-hati saat menggali menggunakan alat berat," ungkap Parmi.
Korban akhirnya berhasil dievakuasi setelah hampir empat jam terjebak di dalam lubang. Saat ditemukan, korban masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Namun, nyawanya tidak dapat diselamatkan setelah dilarikan ke rumah sakit.
Peristiwa ini memicu sorotan terhadap aspek keselamatan proyek konstruksi yang berada di tengah permukiman padat. Warga berharap aparat kepolisian mengusut penyebab kejadian sekaligus mengevaluasi standar pengamanan proyek agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
Hingga kini, lokasi masih dipasangi garis polisi sebagai bagian dari proses penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti insiden yang menewaskan bocah tersebut.**
