Jakarta, MI — Temuan ratusan senjata di lingkungan sebuah sekolah swasta di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mulai berdampak serius terhadap para siswa. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima permohonan perlindungan bagi sekitar 500 siswa yang disebut mengalami ketakutan setelah mengetahui adanya 995 senjata di lingkungan sekolah.
Permohonan tersebut diajukan Yayasan Harapan Ibu kepada KPAI pada Senin (10/8/2026). Pihak yayasan meminta pendampingan sekaligus perlindungan terhadap siswa selama proses penanganan kasus berlangsung.
Komisioner KPAI Diyah Puspitarini mengatakan para siswa berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai TK, SD, SMP hingga SMA.
"Mereka (pihak yayasan) melakukan pengaduan resmi kepada KPAI, untuk melakukan perlindungan pada anak-anak yang saat ini ada sekitar 500 siswa yang terdaftar," kata Diyah.
Situasi semakin serius karena lokasi penemuan senjata berada di sekitar area SMP. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa dan orang tua merasa tidak aman.
"Tempat kejadian ini ada di sekitar SMP sehingga anak-anak sebagian ketakutan, orangtua keberatan sehingga kondisi saat ini siswa PJJ (pembelajaran jarak jauh)," ujarnya.
Yayasan Harapan Ibu tidak hanya meminta perlindungan psikologis bagi siswa. Mereka juga mendesak agar aparat kepolisian segera memastikan seluruh lingkungan sekolah steril dari barang-barang berbahaya.
Kuasa hukum yayasan, Annisa Ismail, mengatakan pihaknya datang ke KPAI untuk menyampaikan kondisi sebenarnya sekaligus meminta lembaga tersebut menjembatani komunikasi dengan kepolisian.
"Kami juga meminta bantuan dan dukungan dari KPAI untuk dapat menindaklanjuti kondisi yang ada saat ini. Kami minta bantuan mereka untuk bisa mendorong pihak kepolisian untuk segera melakukan sterilisasi sekolah," kata Annisa.
Yayasan menilai proses sterilisasi penting sebelum aktivitas pendidikan kembali normal. Keamanan siswa menjadi prioritas karena mereka merupakan kelompok yang paling rentan terdampak situasi tersebut.
Kasus ini mencuat setelah pihak sekolah menemukan sekitar 995 senjata pada Juli 2026. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada polisi dan kini tengah diselidiki Polres Metro Jakarta Selatan.
Senjata yang ditemukan disebut terdiri dari berbagai jenis, termasuk airgun, air rifle, serta satu pucuk yang diduga merupakan senjata api. Polisi juga menemukan amunisi dan sejumlah aksesori senjata.
"Hampir satu bulan yang lalu, kami menemukan ada 995 pucuk senjata. Di dalamnya ada senjata api, termasuk ada amunisi, dan juga beberapa aksesori senjata yang lain," kata pengacara yayasan, Hermawanto.
Temuan tersebut kemudian berkembang setelah aparat juga mengungkap adanya barang lain di lingkungan sekolah, termasuk narkoba dan barang-barang yang masih dalam proses pemeriksaan.
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan menyita sejumlah barang untuk kepentingan penyelidikan.
Siswa Jadi Korban Dampak Kasus
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, sekitar 500 siswa kini harus menjalani pembelajaran jarak jauh. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kasus ini tidak hanya menjadi persoalan keamanan, tetapi juga telah mengganggu kegiatan pendidikan.
KPAI memastikan perlindungan terhadap anak menjadi perhatian utama. Pemeriksaan kondisi psikologis siswa diperlukan untuk memastikan trauma yang muncul tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Yayasan juga meminta agar penanganan kasus dilakukan secara terbuka tanpa mengorbankan hak siswa untuk memperoleh pendidikan yang aman.
Dengan ditemukannya 995 senjata di lingkungan sekolah, aparat kini dituntut mengungkap secara terang bagaimana senjata tersebut bisa berada di sana, siapa pemiliknya, untuk apa disimpan, serta sejak kapan benda-benda tersebut berada di lingkungan sekolah.
Sebelum seluruh aspek tersebut terungkap dan sekolah dinyatakan aman, para siswa masih harus belajar dari rumah. Keamanan dan keselamatan ratusan anak kini menjadi perhatian utama di tengah penyelidikan kasus yang belum tuntas.**
