Ekonom Bhima Diancam Siram Keras hingga Pembunuhan Usai Ada Gugatan Program MBG dan Kerja Sama Dagang RI-AS ke PTUN Jakarta
.webp)
Jakarta, MI — Ruang demokrasi kembali diuji. Bhima Yudhistira, peneliti ekonomi sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, mengungkap dirinya menjadi target teror serius berupa ancaman penyiraman air keras hingga pembunuhan.
Ancaman itu tidak datang secara sporadis, melainkan masif dan terorganisir melalui serangan digital ke akun media sosial pribadinya sejak 31 Maret 2026.
“Ancaman sudah mengarah pada penganiayaan, bahkan pembunuhan,” ungkap Bhima dalam sebuah wawancara dinukil Monitorindonesia.com, Sabtu (4/4/2026).
Pernyataan ini bukan sekadar alarm, tetapi sinyal bahaya bagi kebebasan akademik dan suara kritis di Indonesia.
Tak hanya Bhima, intimidasi juga menyasar tim Center of Economic and Law Studies secara luas.
Teror meningkat tajam setelah lembaga tersebut menggugat sejumlah kebijakan strategis pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis dan kerja sama dagang Indonesia–Amerika Serikat ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta.
Gelombang ancaman ini dinilai bukan kebetulan. Bhima menyebut serangan digital terjadi secara sistematis dalam satu hingga dua bulan terakhir, menyasar tidak hanya aktivis, tetapi juga peneliti—terutama yang vokal di bidang ekonomi dan kebijakan publik.
“Kita dipaksa hidup dalam kewaspadaan tinggi. Dari keamanan digital hingga perlindungan fisik di lapangan harus diperketat,” tegasnya.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: siapa yang bermain di balik teror terhadap peneliti? Jika suara akademik dibungkam dengan ancaman kekerasan, maka yang terancam bukan hanya individu, tetapi masa depan demokrasi itu sendiri.
Desakan pun menguat agar aparat penegak hukum tidak tinggal diam.
Kasus ini dinilai harus diusut tuntas, bukan hanya untuk melindungi korban, tetapi juga memastikan bahwa ruang kritik dan kebebasan berpikir tidak dibungkam oleh teror.
Topik:
