Alarm BRIN: 65,8% Garis Pantai Pantura Terdampak Erosi

Jakarta, MI - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tubagus Solihuddin, mengungkapkan bahwa erosi di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura) sudah mencapai 65,8 persen dari total garis pantai. Dampaknya cukup besar, mulai dari Kabupaten Serang hingga Situbondo, dan secara langsung menggerus ruang hidup masyarakat di wilayah pesisir.
Tubagus menjelaskan, salah satu penyebab utama meningkatnya erosi adalah masifnya pembangunan permukiman dan pusat ekonomi di kawasan tersebut akibat tekanan demografi. Kondisi ini berujung pada ekstraksi sumber daya laut dan pesisir yang tidak terkontrol.
Dari sisi geologi, Pantura tersusun atas endapan fluvial dan delta yang relatif longgar, sehingga struktur tanahnya belum padat dan mudah mengalami pengikisan maupun penurunan permukaan. Kerentanan ini semakin diperparah oleh kondisi morfologi di kawasan tersebut.
“Pantura didominasi oleh pantai berelief rendah atau pantai dataran rendah dengan elevasi ketinggian kurang dari 10 meter,” ujar Tubagus melalui keterangan tertulisnya, Senin (4/5/2026).
“Tantangannya bukan hanya erosi, abrasi, banjir, tapi juga kenaikan muka air laut dan amblesan tanah.”
Analisis perubahan garis pantai berdasarkan citra Satelit Sentinel selama periode 2000-2024 menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Tubagus menyebut, pergeseran garis pantai di Pantura didominasi oleh erosi yang mencapai 65,8 persen, sementara tingkat akresi atau penambahan daratan hanya berada di angka 34,2 persen.
Ia juga menyoroti adanya kejanggalan dalam temuan tersebut. Erosi besar justru terjadi di lingkungan delta yang secara alamiah merupakan area sedimentasi. Kondisi ini sangat berkaitan erat dengan aktivitas modifikasi di daerah hulu, seperti kanalisasi, pembelokan arah sungai, dan pembangunan bendungan, yang pada akhirnya memutus suplai sedimen ke wilayah muara pesisir.
Tubagus mengatakan, persoalan di pesisir Pantura bersifat sistemik. Pemicu utamanya antara lain alih fungsi lahan secara masif, termasuk lebih dari 1.500 kilometer persegi area terbangun dan 5.449 kilometer persegi persawahan, serta pembabatan mangrove dan struktur penahan ombak yang dibangun secara sporadis dan tidak terintegrasi.
Melihat kondisi tersebut, ia menekankan pentingnya pendekatan lintas sektor dan berbasis wilayah dalam penanganannya. Tubagus menilai tidak ada satu solusi yang bisa diterapkan untuk seluruh Pantura, mengingat tiap wilayah memiliki karakter dan kondisi morfologi yang berbeda.
Topik:
