BREAKINGNEWS

Perang Suku Pecah di Wamena, 13 Orang Tewas dan Ratusan Rumah Hangus Dibakar

Perang Suku Pecah di Wamena, 13 Orang Tewas dan Ratusan Rumah Hangus Dibakar
Perang suku di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menewaskan 13 orang (Foto: Ist)

Jayawijaya, MI - Konflik perang suku yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menelan korban jiwa dan menimbulkan kerugian besar. Bentrokan antara kelompok dari Suku Hubla (Kurima) dan Suku Lanny itu menyebabkan sedikitnya 13 orang tewas serta puluhan warga lainnya terluka.

Berdasarkan data terbaru dari Polres Jayawijaya, jumlah korban meninggal bertambah setelah dua warga dilaporkan tewas pada Jumat (15/5/2026). Situasi kembali memanas pada Sabtu, ketika bentrokan susulan pecah dan menyebabkan 11 orang meninggal dunia di lokasi kejadian.

Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara mengatakan total korban akibat konflik tersebut mencapai 13 orang meninggal dunia dan 20 orang mengalami luka-luka.

“Pada tanggal 15 Mei terdapat dua korban meninggal dunia dan 19 korban luka. Kemudian pada Sabtu ada 11 korban meninggal dan satu orang luka. Jadi total korban meninggal sebanyak 13 orang dan korban luka berjumlah 20 orang,” kata Kapolres dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

Tak hanya menelan korban jiwa, konflik tersebut juga memicu aksi pembakaran besar-besaran yang menghanguskan permukiman warga hingga fasilitas umum.

Data kepolisian mencatat sedikitnya 117 rumah warga dan 63 honai ludes terbakar. Massa juga membakar delapan unit rumah toko (ruko), satu bangunan sekolah, serta satu kantor desa.

Kerusakan turut melanda kendaraan milik warga. Sebanyak 48 unit kendaraan roda empat dan 43 kendaraan roda dua hangus terbakar hingga rusak berat.

“Seluruh bangunan, kendaraan, dan fasilitas umum yang dibakar mengalami kerusakan berat dan tidak dapat digunakan kembali. Dari hasil olah tempat kejadian perkara dan pendataan di lapangan, hampir semuanya hangus terbakar,” ungkap Kapolres.

Situasi yang mencekam akibat konflik tersebut membuat ribuan warga meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Berdasarkan data sementara, jumlah pengungsi mencapai sekitar seribu jiwa yang tersebar di beberapa titik pengamanan, seperti gereja, Markas Kodim 1702/Jayawijaya, dan Markas Polres Jayawijaya.

Untuk mencegah bentrokan susulan, aparat gabungan TNI dan Polri terus melakukan penjagaan ketat di sejumlah titik rawan di wilayah Wamena.

Kapolda Papua Irjen Pol Patrige Renwarin mengatakan kondisi di Wamena mulai berangsur terkendali setelah adanya penambahan personel keamanan sejak Sabtu lalu.

“Pasukan tambahan sudah kami kerahkan ke Wamena dan kondisi saat ini sudah mulai terkendali. Namun anggota masih tetap disiagakan di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya serangan balasan,” ujar Patrige.

Meski kondisi mulai kondusif, aparat keamanan masih terus melakukan patroli dan pendekatan kepada tokoh adat serta tokoh masyarakat guna meredam konflik agar tidak kembali meluas.

Di tengah penanganan konflik, Kapolda Papua mengatakan pihaknya juga tengah memfokuskan perhatian pada proses pencarian korban hilang yang diduga terseret arus di Kali Uwe akibat putusnya jembatan pada pekan lalu.

“Fokus kami saat ini juga membantu proses pencarian korban hilang karena insiden jembatan putus tersebut. Jumlah korbannya cukup banyak sehingga perlu penanganan serius,” tuturnya.

Sementara itu, pemerintah daerah bersama aparat keamanan terus melakukan penanganan darurat terhadap para pengungsi dengan menyalurkan bantuan makanan, pelayanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.

Di sisi lain, berbagai pihak mendesak agar konflik segera diselesaikan melalui pendekatan adat dan dialog damai guna mencegah bertambahnya korban jiwa maupun kerugian yang lebih besar.

Sebelumnya, Wakil Menteri Dalam Negeri juga meminta seluruh pihak segera menghentikan perang suku dan mengutamakan pemulihan keamanan serta aktivitas masyarakat di Wamena.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Perang Suku Pecah di Wamena, 13 Orang Tewas dan Ratusan Ruma | Monitor Indonesia