BREAKINGNEWS

Berhari-hari Warga Sumatera Hidup dalam Kegelapan, Wamen ESDM Sebut Blackout Murni Karena Alam

Berhari-hari Warga Sumatera Hidup dalam Kegelapan, Wamen ESDM Sebut Blackout Murni Karena Alam
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung

Jakarta, MI Pemerintah memastikan insiden blackout besar yang melumpuhkan sejumlah wilayah di Sumatera bukan disebabkan sabotase maupun kelalaian disengaja. Namun di tengah penderitaan warga yang hidup dalam kegelapan selama tiga hari, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan pemadaman massal itu murni dipicu faktor alam.

“Enggak, itu ya tidak ada kesengajaan. Itu ya murni karena masalah kondisi alam,” tegas Yuliot di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Pemadaman listrik massal (blackout) di Pulau Sumatera diketahui berlangsung selama tiga hari sejak Jumat malam, 22 Mei 2026 sekitar pukul 18.44 WIB. Gangguan tersebut membuat jutaan warga di berbagai daerah terpaksa menghadapi lumpuhnya aktivitas akibat padamnya aliran listrik dalam waktu panjang.

Wilayah yang terdampak meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, hingga Jambi. Aktivitas masyarakat terganggu total, mulai dari rumah tangga, layanan publik, jaringan komunikasi, hingga kegiatan ekonomi.

Direktur Utama PT PLN (Persero)Darmawan Prasodjo, mengungkap indikasi awal gangguan berasal dari jalur transmisi 275 kilovolt antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang diduga tersambar petir akibat cuaca buruk.

“Ini sebagai indikasi awal, ada ruas transmisi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi yang indikasi awalnya karena gangguan cuaca,” ujar Darmawan.

Gangguan pada jalur transmisi itu membuat sistem kelistrikan Sumatera keluar dari jaringan utama dan memicu ketidakseimbangan suplai listrik di berbagai wilayah.

PLN menjelaskan sebagian pembangkit mengalami kelebihan pasokan listrik (oversupply), sementara daerah lain kehilangan suplai secara mendadak. Kondisi tersebut memicu sistem proteksi otomatis bekerja dan menyebabkan pembangkit keluar dari sistem secara berantai.

“Pembangkitnya langsung secara otomatis keluar dari sistem, atau dalam istilah publik pembangkitnya otomatis padam,” kata Darmawan.

Efek domino kemudian meluas dan menyebabkan blackout besar di berbagai provinsi Sumatera selama berhari-hari.

Meski pemerintah mengklaim kondisi kelistrikan kini sudah pulih 100 persen, insiden blackout selama tiga hari itu memicu sorotan keras terhadap ketahanan sistem listrik nasional di Sumatera.

Yuliot meminta PLN segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem transmisi dan distribusi listrik, termasuk pemasangan arde di wilayah rawan sambaran petir serta pemerataan sumber pembangkit di tiap daerah.

“Jangan terlalu banyak daerah-daerah mengalirkan listriknya dari daerah yang cukup jauh,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketergantungan aliran listrik dari wilayah selatan ke utara Sumatera yang dinilai membuat proses pemulihan berjalan lambat ketika gangguan besar terjadi.

“Seperti dari selatan ke utara itu justru membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pemulihan. Jadi untuk ke depan itu ya kita evaluasi untuk seluruh perbaikan yang dilakukan,” tambahnya.

Blackout Sumatera kini menjadi alarm serius bagi pemerintah dan PLN, terutama setelah jutaan warga dipaksa hidup tanpa listrik selama tiga hari hanya karena gangguan yang disebut dipicu sambaran petir.**

Topik:

Edison Efrizal

Penulis

Video Terbaru

Pemerintah memastikan insiden blackout besar yang melumpuhka | Monitor Indonesia