Jakarta, MI— TNI Angkatan Darat (AD) mengeklaim jumlah pelanggaran yang dilakukan prajurit sangat kecil jika dibandingkan dengan pengabdian para tentara di berbagai wilayah Indonesia setiap harinya.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono menegaskan publik diminta melihat persoalan secara objektif dan tidak menilai institusi hanya dari ulah sejumlah oknum.
“Publik perlu obyektif karena jumlah pelanggaran sangat kecil dibanding total pengabdian prajurit setiap harinya,” kata Donny di Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026).
Menurut Donny, banyak tugas kemanusiaan yang dilakukan prajurit TNI AD justru tidak terekspos media maupun media sosial. Ia menyebut prajurit terlibat dalam pembangunan fasilitas air bersih, pengiriman tenaga pendidik ke daerah terpencil, hingga pelayanan kesehatan melalui satuan tugas di berbagai wilayah.
Selain itu, TNI AD juga disebut rutin membantu distribusi logistik bagi masyarakat yang tinggal di daerah terisolasi.
“Jangan sampai ribuan pengabdian prajurit tertutupi hanya oleh tindakan segelintir oknum,” ujarnya.
Meski demikian, Donny menegaskan TNI AD tidak akan membela prajurit yang terbukti melanggar hukum. Ia memastikan setiap pelanggaran akan diproses sesuai aturan dan hukum yang berlaku.
“Kami berupaya menunjukkan ketegasan institusi namun juga mengajak publik untuk berpikir objektif,” katanya.
Menurutnya, TNI AD juga terus melakukan evaluasi internal melalui pembinaan personel, penguatan ideologi, pengawasan, hingga literasi digital bagi prajurit.
“Karena tidak hanya di TNI, setiap pelanggaran menjadi bahan evaluasi bagi institusi untuk terus memperbaiki diri,” lanjut Donny.
Pernyataan TNI AD ini muncul di tengah sorotan publik terhadap sejumlah kasus yang melibatkan prajurit dalam beberapa waktu terakhir.
Salah satunya kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus, yang menyeret empat anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dan kini tengah menjalani sidang di peradilan militer.
Selain itu, ada kasus pembunuhan Kepala Cabang bank BUMN Mohammad Ilham Pradipta yang melibatkan tiga prajurit TNI.
Kasus lain yang turut menjadi perhatian publik ialah dugaan keterlibatan Babinsa Sertu Riza Pahlevi dalam tewasnya pelajar berinisial MHS di Medan.
Terbaru, kasus penembakan yang menewaskan Prajurit Satu (Pratu) FAA (23) di Palembang, Sumatera Selatan, juga diduga dilakukan oleh rekan sesama prajurit.**

