Sragen, MI — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam sektor industri di Jawa Tengah. Sebanyak 1.600 buruh PT Combine Will Industrial Indonesia (CWII), pabrik mainan berbahan plastik di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, resmi kehilangan pekerjaan akibat turunnya pesanan dan melonjaknya harga bahan baku plastik.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Ahmad Aziz, membenarkan PHK tersebut terjadi dalam periode April hingga Mei 2026. Menurutnya, perusahaan memilih tidak memperpanjang kontrak ribuan pekerja di tengah kondisi industri yang melemah.
“Benar, ada sekitar 1.600 pekerja yang kontraknya tidak diperpanjang karena penurunan order,” ujar Aziz, Jumat (29/5/2026).
PT CWII sebelumnya mempekerjakan hampir 10.000 tenaga kerja dengan sistem kontrak enam bulanan. Namun tekanan ekonomi membuat perusahaan mulai melakukan efisiensi tenaga kerja secara besar-besaran.
Tak hanya penurunan permintaan pasar, lonjakan harga bahan baku plastik juga memperparah kondisi perusahaan. Kenaikan harga disebut dipicu memanasnya situasi geopolitik internasional, termasuk konflik AS-Iran yang berdampak pada rantai pasok industri.
“Bahan baku plastik mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Itu sangat memengaruhi biaya produksi,” kata Aziz.
Karena status pekerja merupakan karyawan kontrak yang masa kerjanya telah habis, perusahaan tidak memberikan pesangon. Meski demikian, para pekerja tetap memperoleh kompensasi berupa Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) dari BPJS Ketenagakerjaan.
Di tengah kabar PHK massal tersebut, pemerintah daerah mengklaim mulai membuka peluang kerja baru bagi para eks buruh. Disnakertrans Jateng mencatat ada 18 perusahaan di Sragen yang menyediakan sekitar 5.900 lowongan kerja.
Hingga 21 Mei 2026, sebanyak 782 mantan pekerja CWII disebut telah diterima bekerja di sejumlah perusahaan seperti Pan Brothers, Djarum, PT Glory Industrial, PT Shesin, dan PT Aroma Sukowati.
Pihak manajemen CWII juga disebut optimistis kondisi perusahaan akan membaik pada kuartal IV 2026. Jika situasi membaik, sebagian mantan pekerja berpeluang dipanggil kembali untuk bekerja.
PHK ribuan buruh ini kembali menjadi sinyal keras bahwa sektor industri manufaktur sedang menghadapi tekanan serius. Bagi para pekerja, persoalannya bukan sekadar kontrak yang berakhir, tetapi bagaimana mempertahankan penghasilan di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat.**

