Jakarta, MI— Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan kembali melakukan kunjungan luar negeri ke Rusia pada 17 Juni 2026 untuk menghadiri KTT ASEAN-Rusia di Kazan. Agenda tersebut menambah daftar panjang lawatan internasional Prabowo yang terus menjadi sorotan publik.
Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, mengatakan jadwal kunjungan masih dalam tahap finalisasi antara pemerintah Indonesia dan Rusia.
"KTT ASEAN dengan Rusia di Kazan tanggal 17 Juni," ujar Havas.
Kembali ke Luar Negeri
Rencana keberangkatan ke Rusia terjadi tidak lama setelah Prabowo menyelesaikan rangkaian kunjungan ke sejumlah negara Eropa. Sebelumnya, Presiden juga melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada April lalu untuk membahas kerja sama energi, investasi, pertanian, teknologi, dan pendidikan.
Lawatan terbaru ini memperkuat sorotan terhadap tingginya frekuensi perjalanan luar negeri Presiden sejak dilantik.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, sebelumnya mengungkapkan bahwa Prabowo menjadi salah satu kepala negara dengan frekuensi kunjungan luar negeri yang sangat tinggi. Bahkan, menurut kritik yang berkembang, Presiden disebut telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk agenda internasional sejak menjabat.
Data yang beredar dalam perdebatan publik menunjukkan Prabowo telah melakukan puluhan kunjungan luar negeri sejak menjabat Presiden. Pada April 2026, jumlah kunjungan disebut telah mencapai sekitar 35 kali, dan pada akhir Mei 2026 berbagai pihak menyebut jumlahnya telah menembus lebih dari 50 kunjungan luar negeri.
Frekuensi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas serta biaya perjalanan di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah.
Besaran biaya resmi seluruh kunjungan luar negeri Presiden belum pernah dipublikasikan secara rinci kepada publik. Namun, kritik yang berkembang menyebut satu kunjungan kenegaraan dapat menghabiskan anggaran miliaran rupiah untuk pesawat, pengamanan, hotel, logistik, dan rombongan pendamping.
Menanggapi kritik tersebut, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa kelebihan biaya di luar anggaran resmi negara ditanggung langsung oleh Prabowo menggunakan dana pribadi.
Teddy juga menyebut jumlah rombongan Presiden saat ini telah dipangkas lebih dari 50 persen dibanding periode sebelumnya, dari lebih dari 120 orang menjadi sekitar 50-60 orang setiap kunjungan.
Meski Istana menegaskan seluruh lawatan dilakukan demi kepentingan nasional dan penguatan kerja sama ekonomi, kritik terhadap intensitas kunjungan luar negeri Presiden belum mereda.
Rencana keberangkatan ke Rusia pekan depan kembali memunculkan pertanyaan publik mengenai prioritas pemerintahan, terutama ketika sejumlah persoalan dalam negeri mulai dari ekonomi, pangan, hingga program Makan Bergizi Gratis masih menjadi perhatian masyarakat.**

