BREAKINGNEWS

Hutama Karya Selesaikan JIAT, Hadirkan Irigasi Modern ke Pulau Terluar Maluku

Hutama Karya Selesaikan JIAT, Hadirkan Irigasi Modern ke Pulau Terluar Maluku
PT Hutama Karya selesai membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Pulau Selaru dan Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

Jakarta, MI - PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) telah selesai dan sukses menyelesaikan proyek Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Pulau Selaru dan Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku.

 

Kehadiran infrastruktur vital ini kini mulai dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat tani di wilayah perbatasan Indonesia–Australia tersebut, melalui jaminan pasokan air sepanjang tahun dan peningkatan frekuensi masa tanam yang signifikan.

 

Proyek yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku ini terbagi dalam dua paket kontraktual, yaitu 26 titik JIAT di Pulau Selaru dan 13 titik JIAT di Pulau Yamdena, dengan total 39 titik sumur bor yang kini siap mengairi lahan pertanian di kedua pulau tersebut. Seluruh rangkaian pekerjaan konstruksi telah dinyatakan selesai pada 16 Maret 2026 (PHO).

 

Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero), Hamdani menegaskan, proyek ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan nasional di wilayah-wilayah terpencil dan perbatasan.

 

"Pembangunan JIAT di Kepulauan Tanimbar ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Ini adalah jawaban atas kebutuhan nyata petani di pulau terluar yang selama ini hanya bisa panen sekali setahun. Dengan teknologi irigasi berbasis energi surya dan sistem gravitasi yang kami terapkan, kami berharap para petani di Pulau Selaru dan Pulau Yamdena dapat menikmati hasil panen dua hingga tiga kali per tahun. Hutama Karya terus berkomitmen untuk hadir memberikan solusi infrastruktur yang berkelanjutan, bahkan di wilayah yang paling menantang sekalipun," kata Hamdani dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (19/6/2026).

 

Sebelum hadirnya JIAT, kegiatan bercocok tanam di Pulau Selaru dan Pulau Yamdena, khususnya tanaman padi hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun, sepenuhnya bergantung pada musim penghujan akibat keterbatasan sumber air permukaan.

 

Dengan beroperasinya 39 titik JIAT, setiap titik mampu mengairi lahan seluas 12 hektare, sehingga total lahan pertanian yang kini terjangkau mencapai 468 hektare. Frekuensi panen yang semula hanya satu kali per tahun diharapkan meningkat menjadi dua hingga tiga kali panen per tahun, memberikan dampak langsung pada perekonomian petani lokal.

 

Dampak nyata JIAT mulai terasa langsung di tingkat petani. Di Desa Kandar, Pulau Selaru, lahan pertanian di kawasan Abatus Nitas selama ini hanya mampu menghasilkan sekitar dua puluh ton gabah dalam satu musim tanam per tahun. Dengan potensi lahan yang mencapai lebih dari lima puluh hektare, kehadiran JIAT membuka peluang besar yang belum pernah ada sebelumnya, bukan hanya menambah frekuensi panen, tetapi juga mendorong pemerataan akses air irigasi bagi seluruh petani di wilayah tersebut.

”Kami sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden atas perhatiannya kepada para petani di Indonesia, khususnya kami di Maluku, di Selaru, di Kandar. Dengan hadirnya JIAT ini, kami berharap bisa panen hingga tiga kali setahun, dan semoga harapan Bapak Presiden untuk para petani di seluruh Indonesia pun bisa terwujud," ujar John K. Halurun, Ketua Kelompok Tani Desa Kandar.

 

Keunggulan JIAT

 

Berbeda dengan sistem irigasi konvensional, JIAT yang dibangun Hutama Karya menerapkan inovasi berupa peniadaan pompa sentrifugal sebagai pendorong air. Sebagai gantinya, sistem memanfaatkan menara air (water tower) dengan ketinggian yang disesuaikan dengan kondisi elevasi riil di lapangan, sehingga pengaliran air ke lahan pertanian dapat sepenuhnya menggunakan sistem gravitasi.

 

Pada setiap titik JIAT, pompa submersible digerakkan oleh sistem panel surya (solar panel) dan inverter untuk mengangkat air dari kedalaman rata-rata 50 hingga 60 meter melalui sumur bor menuju menara toren penampungan.

 

Dari sana, air dialirkan melalui jaringan pipa HDPE berdiameter 2 inci menuju kotak-kotak pembagi sebelum akhirnya mencapai lahan pertanian. Komoditas yang diuntungkan mencakup padi, jagung, serta berbagai produk hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan.

 

Sebagai proyek di pulau terluar NKRI, tantangan terbesar yang dihadapi Hutama Karya adalah pengadaan material dan peralatan yang harus didatangkan dari luar pulau, di samping upaya identifikasi titik-titik lokasi yang berpotensi memiliki sumber air tanah yang memadai. Pascapenyelesaian konstruksi, BWS Maluku akan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para petani, termasuk penyerahan manual operasi sistem JIAT, setelah proses FHO dan serah terima kepada Pemerintah Daerah rampung dilaksanakan.

 

Proyek JIAT di Maluku ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pekerjaan Umum dalam memperkuat ketahanan air nasional. Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa langkah pengembangan JIAT dilakukan untuk menjaga keberlanjutan suplai air, terutama di daerah-daerah yang bergantung pada bendungan dan rentan mengalami penurunan debit saat musim kemarau. Program JIAT sendiri akan difokuskan di wilayah-wilayah sentra produksi pangan seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta diperluas ke sejumlah daerah di luar Jawa.

 

"Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan intensitas tanam dan menjaga stabilitas produksi beras nasional di tengah tantangan perubahan iklim," ungkap Menteri PU, Dody Hanggodo beberapa waktu lalu.

Topik:

Zul Sikumbang

Penulis

Video Terbaru

Hutama Karya Selesaikan JIAT, Hadirkan Irigasi Modern | Monitor Indonesia