Jakarta, MI– Meninggalnya lima calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih selama mengikuti latihan dasar militer (Latsarmil) memicu desakan keras agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut. DPR menilai keselamatan peserta tidak boleh dikorbankan atas nama pembentukan disiplin.
Wakil Ketua Komisi VI DPR, Nurdin Halid, menegaskan insiden yang merenggut lima nyawa itu harus menjadi titik balik untuk membenahi seluruh sistem pelatihan yang diselenggarakan melalui program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
"Pemerintah perlu melakukan evaluasi secara komprehensif terhadap seluruh rangkaian pelatihan, mulai dari proses seleksi kesehatan, pengawasan kondisi fisik peserta selama pendidikan, hingga kesiapan sistem penanganan medis. Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama dalam setiap program pengembangan sumber daya manusia," kata Nurdin Halid, Minggu (28/6/2026).
Menurut dia, SPPI memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang akan menjadi motor penggerak Koperasi Desa Merah Putih. Karena itu, kualitas pendidikan harus tetap dijaga tanpa mengabaikan aspek keselamatan peserta.
Nurdin menilai tragedi tersebut menunjukkan perlunya pembenahan tata kelola pelatihan secara menyeluruh, termasuk pengawasan kesehatan peserta sejak tahap seleksi hingga proses pendidikan berlangsung.
Selain aspek keselamatan, DPR juga meminta pemerintah mengevaluasi substansi pelatihan agar lebih sesuai dengan kebutuhan calon pengelola koperasi modern.
Menurut Nurdin, materi pendidikan seharusnya lebih banyak memperkuat kemampuan teknis dan manajerial, seperti pengelolaan stok barang, pemasaran, akuntansi, audit, tata kelola keuangan, hingga strategi bisnis yang mampu meningkatkan daya saing koperasi desa.
"Kita ingin para peserta SPPI nantinya tidak hanya memiliki disiplin dan semangat pengabdian, tetapi juga kompetensi bisnis yang kuat sehingga mampu mengembangkan Koperasi Desa Merah Putih menjadi lembaga ekonomi yang produktif, profesional, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa," ujarnya.
Ia menegaskan keberhasilan program Kopdes Merah Putih tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran pemerintah, melainkan juga kualitas sumber daya manusia yang dipersiapkan untuk mengelola koperasi secara profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Desakan evaluasi menguat setelah jumlah korban meninggal dunia dalam pelatihan terus bertambah menjadi lima orang.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan, sebelumnya menjelaskan bahwa salah satu peserta yang meninggal adalah Nola Dya Sari dari Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan.
Berdasarkan laporan, korban masih mengikuti kegiatan belajar di kelas dan tidak menunjukkan keluhan kesehatan sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.**
