Jakarta, MI– Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada Oktober 2026.
Target tersebut menjadi penanda kebangkitan proyek strategis nasional (PSN) berkapasitas 510 megawatt (MW) yang sempat tertunda akibat bencana hidrometeorologi pada akhir 2025.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pemerintah terus mempercepat penyelesaian proyek agar segera masuk ke jaringan listrik nasional.
"PLTA Batang Toru kita harapkan Oktober 2026 bisa COD. Memang masih ada penundaan karena bencana, tetapi targetnya tetap Oktober," ujar Eniya.
Menurutnya, PLTA Batang Toru menjadi salah satu proyek energi baru terbarukan (EBT) terbesar yang diprioritaskan pemerintah untuk memperkuat bauran energi bersih sekaligus meningkatkan pasokan listrik nasional.
Selain Batang Toru, Kementerian ESDM juga tengah menginventarisasi sejumlah proyek pembangkit EBT lain yang siap diresmikan dalam waktu dekat. Daftar proyek tersebut masih disusun sebelum nantinya diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto atau Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Saat ini kami sedang mendata pembangkit EBT yang sudah siap untuk diresmikan. Daftarnya masih dalam proses finalisasi," kata Eniya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan PLTA Batang Toru sejatinya dijadwalkan beroperasi pada akhir 2025. Namun, target tersebut gagal tercapai setelah proyek mengalami keterlambatan akibat bencana, sehingga izin operasionalnya sempat dicabut.
Bahlil menegaskan pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk terhadap studi kelayakan (feasibility study) proyek, sebelum operasional pembangkit dijalankan secara penuh.
"PLTA Batang Toru seharusnya sudah COD tahun lalu, tetapi mengalami penundaan. Karena itu kami akan melakukan kajian lebih mendalam, termasuk terhadap feasibility study-nya," ujar Bahlil.
PLTA Batang Toru dibangun oleh PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE), perusahaan patungan yang mengembangkan pembangkit berkapasitas 510 MW. Kepemilikan saham NSHE terdiri atas PT Dharma Hydro Nusantara sebesar 52,82 persen, PLN Nusantara Renewables 25 persen, serta Far East Green Energy Pte. Ltd sebesar 22,18 persen.
Jika mulai beroperasi sesuai target pada Oktober 2026, PLTA Batang Toru akan menjadi salah satu tambahan kapasitas listrik berbasis energi terbarukan terbesar di Sumatera dan memperkuat komitmen pemerintah dalam mempercepat transisi menuju energi bersih.**
