Jakarta, MI– Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan nasional menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang kini berstatus Level III (Siaga).
Puan menegaskan perlindungan masyarakat harus menjadi fokus utama, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir Selat Sunda dan pengguna jalur pelayaran.
Menurut Puan, peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh sistem mitigasi bencana vulkanik. Evaluasi tersebut tidak hanya mencakup pemantauan aktivitas gunung api, tetapi juga efektivitas sistem peringatan dini, kesiapan jalur evakuasi, koordinasi antarinstansi, kapasitas pemerintah daerah, hingga kesiapan masyarakat menghadapi situasi darurat.
"Kesiapsiagaan nasional dalam kebencanaan harus ditingkatkan dalam menghadapi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas," kata Puan Maharani.
Puan juga menekankan pentingnya penyampaian informasi resmi yang cepat, akurat, dan mudah dipahami masyarakat. Menurutnya, koordinasi antara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah harus diperkuat agar tidak muncul kepanikan maupun penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
"Evaluasi tidak hanya mencakup pemantauan aktivitas gunung api, tetapi juga efektivitas sistem peringatan dini, kesiapan jalur evakuasi, koordinasi antarinstansi, kapasitas pemerintah daerah, hingga kesiapan masyarakat dalam merespons informasi kebencanaan," ujarnya.
Selain memperkuat sistem peringatan dini, Puan meminta pemerintah memberi perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat pesisir yang berpotensi terdampak langsung apabila aktivitas vulkanik meningkat.
"Perlu juga dipetakan bagi masyarakat kelompok rentan, sehingga evakuasi saat bencana terjadi semakin lebih efektif dan tidak memakan waktu," tegasnya.
Data PVMBG menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus meningkat sejak awal Juli 2026. Sedikitnya 18 kali letusan telah tercatat sejak 2 Juli, sehingga status gunung api di Selat Sunda itu dinaikkan menjadi Level III (Siaga). Kondisi tersebut membuat pemerintah diminta memastikan seluruh perangkat mitigasi bencana berfungsi optimal guna meminimalkan risiko terhadap masyarakat dan aktivitas pelayaran di sekitar kawasan tersebut.**
