Padang, MI - Anggota DPR RI, Zigo Rolanda menghimbau kepada seluruh masyarakat Kota Padang untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan dari pemerintah serta petugas di lapangan pasca banjir di Kota Padang, Sumatera Barat pada Senin malam (3/8/2026)
"Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama, dan kami akan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait agar penanganan banjir dapat berjalan cepat, tepat, dan efektif," kata Zigo saat meninjau lokasi banjir di Padang, Selasa (4/8/2026).
Sebagai langkah penanganan darurat, politisi Golkar itu menyebutkan, BWS Sumatera V Padang telah memobilisasi unit pompa mobile di wilayah Ulak Karang Utara untuk mempercepat pengurangan genangan air.
"Kami bersama Pemerintah kota padang, BWS Sumatera V dan seluruh instansi terkait akan segera melakukan kajian teknis secara komprehensif guna merumuskan solusi penanganan banjir jangka panjang, sehingga kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang," kata Zigo.
Ia menyebutkan, berdasarkan koordinasi di lapangan dengan BMKG, banjir yang melanda Kota Padang pada 3 Agustus 2026 dipicu oleh curah hujan dengan intensitas ekstrem akibat pertemuan massa udara dari Australia dan Samudera Hindia di wilayah barat Pulau Sumatera.
"Hasil pemantauan di dua Pos Curah Hujan (PCH) menunjukkan intensitas hujan yang sangat tinggi. Di PCH Arau tercatat curah hujan sebesar 86 mm/jam pada pukul 14.00, sedangkan di PCH Air Dingin mencapai 67 mm/jam pada pukul 13.00. Kedua nilai tersebut telah masuk dalam kategori hujan ekstrem, yaitu curah hujan dengan intensitas lebih dari 50 mm/jam atau 150 mm/hari," ungkap politisi Golkar itu.
Sementara itu, pemantauan hujan kumulatif juga menunjukkan kondisi yang sangat ekstrem, yaitu 346 mm dalam 6 jam di PCH Arau dan 167 mm dalam 3 jam di PCH Air Dingin.
Curah hujan yang sangat tinggi tersebut mengakibatkan peningkatan debit air di sejumlah sungai, di antaranya Batang Kuranji, Batang Air Dingin, Batang Kandis, Batang Arau, Kanal Banjir, dan Batang Anai. Kondisi ini menyebabkan sungai-sungai utama tidak lagi mampu menampung debit air yang masuk.
"Akibatnya, muka air pada sungai utama menjadi lebih tinggi daripada anak-anak sungainya sehingga terjadi fenomena backwater, yaitu aliran dari anak sungai tertahan bahkan berbalik arah. Kondisi tersebut memperparah genangan dan menyebabkan banjir di sejumlah wilayah, terutama di Kecamatan Kuranji dan Koto Tangah," sebut anggota DPR RI dari Dapil I Sumbar itu.
Senin malam (3/8/2026), Anggota Komisi V DPR RI itu meninjau langsung lokasi banjir Wali Kota Padang, Fadli Amran beserta jajaran pemerintah daerah, Kepala BWS Sumatera V dan jajaran dan rombongan BASARNAS ke sejumlah lokasi terdampak banjir, khususnya di Kecamatan Koto Tangah.
"Kami juga memantau proses evakuasi warga, serta menyalurkan bantuan darurat kepada masyarakat yang terdampak," kata Zigo.
