BREAKINGNEWS

Hadapi Ancaman Karhutla, BNPB Siagakan Helikopter dan Teknologi Modifikasi Cuaca

Hadapi Ancaman Karhutla, BNPB Siagakan Helikopter dan Teknologi Modifikasi Cuaca
Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto

Jakarta, MI – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian pemerintah seiring kondisi cuaca panas dan potensi penguatan fenomena El Nino. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun menyiapkan sejumlah langkah untuk mencegah kebakaran meluas, khususnya di wilayah yang memiliki lahan gambut.

Tak hanya mengandalkan pemadaman dari udara, BNPB menyiapkan strategi berlapis dengan memperkuat pasukan darat, mengoptimalkan teknologi modifikasi cuaca (TMC), hingga menyiagakan helikopter yang dapat digerakkan sewaktu-waktu ke daerah yang membutuhkan penanganan cepat.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, kesiapsiagaan menjadi kunci menghadapi kondisi cuaca panas yang berpotensi meningkatkan risiko karhutla.

Hal itu disampaikan Suharyanto seusai mengikuti Rapat Koordinasi Penanganan Peningkatan Eskalasi Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago di Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Senin (10/8/2026).

Menurut Suharyanto, perkembangan penanganan karhutla di sejumlah daerah sejauh ini menunjukkan hasil positif. Salah satunya di kawasan Bromo, Jawa Timur.

Jumlah titik kebakaran di kawasan tersebut sebelumnya mencapai 34 titik. Kini, berdasarkan pemantauan BNPB, tersisa dua titik yang masih dalam penanganan.

“Dari kemarin 34 titik, sekarang ada dua titik. Mudah-mudahan hari ini bisa selesai,” ujar Suharyanto.

Meski jumlah titik api turun drastis, pemerintah belum terburu-buru membuka kembali kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Penutupan sementara dilakukan untuk memastikan kondisi benar-benar aman dan mencegah munculnya kembali titik api.

Suharyanto mengatakan, pemantauan akan terus dilakukan selama setidaknya satu pekan. Setelah itu, pemerintah akan mengevaluasi kondisi sebelum menentukan apakah kawasan tersebut sudah aman untuk dibuka kembali.

“Kita akan lihat terus kondisinya paling tidak seminggu. Nanti dievaluasi, kalau tidak mungkin ada kebakaran lagi, mungkin bisa dibuka lagi,” katanya.

Selain pemadaman langsung, BNPB memperkuat upaya pencegahan melalui operasi teknologi modifikasi cuaca atau TMC. Operasi tersebut telah dilakukan di enam provinsi prioritas serta sejumlah wilayah lainnya yang dinilai membutuhkan dukungan.

Namun, efektivitas TMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Operasi tersebut membutuhkan pertumbuhan awan hujan yang cukup agar penyemaian dapat memicu turunnya hujan.

Suharyanto mengatakan, berdasarkan perkiraan BMKG, masih terdapat peluang pertumbuhan awan hujan sebelum 18 Agustus. Karena itu, pesawat yang digunakan untuk operasi TMC tetap disiagakan.

“Setiap ada pertumbuhan awan hujan kita akan segera laksanakan TMC. Pesawatnya sudah standby terus di daerah,” ujarnya.

BNPB juga menyiapkan pola operasi yang fleksibel. Jika pertumbuhan awan hujan terjadi pada malam hari, penerbangan untuk mendukung TMC tetap dapat dilakukan.

Langkah tersebut dilakukan agar setiap peluang hujan dapat dimanfaatkan untuk membantu menekan potensi karhutla, terutama ketika kondisi cuaca panas dan kering mulai meningkat.

Meski operasi udara dan TMC terus diperkuat, BNPB menegaskan pasukan darat tetap menjadi ujung tombak penanganan karhutla.

Hal ini terutama berlaku untuk kebakaran di lahan gambut. Karakteristik gambut membuat api tidak selalu terlihat dari permukaan karena dapat merambat dan bertahan di bawah tanah.

Kondisi tersebut membuat pemadaman menggunakan helikopter water bombing tidak selalu mampu mengakhiri kebakaran secara keseluruhan.

“Operasi udara itu hanya membantu,” kata Suharyanto.

Ia menjelaskan, satu helikopter water bombing mampu membawa sekitar empat ton air. Jika tiga helikopter dikerahkan sekaligus, sekitar 12 ton air dapat dijatuhkan ke lokasi kebakaran.

Namun, jumlah tersebut belum tentu cukup untuk membuat api di lahan gambut benar-benar padam.

“Kalau gambut, disiram di atasnya belum tentu di bawahnya mati. Jadi pasukan darat tetap harus masuk untuk memastikan apinya benar-benar padam,” jelasnya.

Berbeda dengan lahan gambut, kebakaran di lahan mineral cenderung lebih mudah ditangani menggunakan penyiraman dari udara karena api tidak merambat jauh di bawah permukaan seperti pada gambut.

Untuk mengantisipasi munculnya kebakaran di luar wilayah prioritas, BNPB juga menyiapkan tiga helikopter cadangan.

Armada tersebut dapat digerakkan ke berbagai daerah apabila terjadi karhutla yang membutuhkan dukungan tambahan.

“Namun kita masih punya cadangan tiga heli yang bisa bergerak ke mana-mana,” ujar Suharyanto.

Pengerahan tiga helikopter juga telah dilakukan dalam penanganan karhutla di kawasan Bromo. Dukungan operasi udara tersebut membantu menekan jumlah titik api secara signifikan dari 34 titik menjadi hanya dua titik.

Meski demikian, BNPB mengingatkan daerah lain agar tidak lengah. Pemerintah daerah diminta memastikan personel, peralatan pemadaman, serta jalur koordinasi dalam kondisi siap apabila sewaktu-waktu terjadi peningkatan karhutla.

Gubernur, bupati, wali kota, hingga jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang mengikuti rapat koordinasi juga didorong memperkuat kesiapsiagaan di wilayah masing-masing.

Menurut BNPB, kesiapan pasukan darat di daerah sangat penting karena pengerahan helikopter memiliki keterbatasan. Sebagian besar armada udara diprioritaskan untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi yang menjadi fokus utama.

Dengan pola penanganan berlapis tersebut, BNPB berupaya memastikan karhutla dapat dikendalikan sejak awal sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Penguatan pasukan darat, kesiapan helikopter, pelaksanaan TMC ketika kondisi atmosfer memungkinkan, serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi bagian dari strategi menghadapi potensi peningkatan karhutla di tengah ancaman El Nino.

Suharyanto menegaskan seluruh kekuatan tetap disiagakan agar setiap perkembangan kebakaran dapat segera direspons.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menangani setiap titik api secepat mungkin sebelum berkembang dan memberikan dampak yang lebih besar,” tegas Suharyanto.

 

Topik:

Rizal Siregar

Penulis

Video Terbaru

Karhutla Mengintai Saat El Nino, BNPB Perkuat Pasukan Darat dan Operasi Udara | Monitor Indonesia