Jakarta, MI– Dua penggerak Desa Sejahtera Astra (DSA) mendapat penghargaan bergengsi dari Presiden Republik Indonesia. Zainul Arifin dari DSA Ketapanrame, Mojokerto, Jawa Timur, dan Nur Ahmadi dari DSA Wukirsari, Bantul, Yogyakarta, menerima Tanda Kehormatan Satyalencana Kepariwisataan.
Penghargaan diberikan atas kontribusi keduanya dalam mengembangkan pariwisata desa berbasis komunitas sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (17/8/2026), bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
Satyalencana Kepariwisataan merupakan tanda kehormatan dari Presiden RI bagi individu yang dinilai berjasa dalam pengembangan sektor pariwisata. Penghargaan ini sekaligus menjadi pengakuan atas kontribusi nyata dalam mengangkat potensi dan kesejahteraan masyarakat desa.
Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto menilai penghargaan tersebut merupakan apresiasi terhadap kerja panjang para penggerak desa dalam membangun potensi lokal.
“Astra mengapresiasi penghargaan yang diterima oleh kedua penggerak Desa Sejahtera Astra yang telah mendapatkan pendampingan dari Astra sejak tahun 2023 dan berkontribusi memberikan manfaat bagi masyarakat serta memperkuat pengembangan pariwisata berbasis komunitas,” ujar Boy.
Menurutnya, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian individu, tetapi juga kemenangan masyarakat desa yang selama ini konsisten berinovasi.
“Penghargaan ini adalah kemenangan bagi seluruh masyarakat desa yang tak lelah berinovasi dan semoga dapat menularkan inspirasi bagi desa-desa lainnya untuk terus berkarya dan tumbuh bersama Indonesia,” katanya.
Zainul Arifin dinilai berhasil mengubah potensi tanah kas desa di Kecamatan Trawas, Mojokerto, menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat.
Di bawah pengembangannya, kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi wisata Taman Ghanjaran dan Sumber Gempong.
Pengembangan dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak dan investasi masyarakat yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).
Model tersebut tidak hanya menciptakan destinasi wisata, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga dan berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes).
Sementara itu, Nur Ahmadi konsisten mengembangkan potensi wisata Desa Wukirsari, Bantul, dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan dan budaya lokal.
Salah satu kekuatan yang dikembangkan adalah Batik Tulis Giriloyo. Produk budaya tersebut menjadi bagian dari strategi mengembangkan pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Pengembangan potensi lokal membuat Wukirsari semakin dikenal luas. Desa tersebut bahkan berhasil meraih penghargaan The Best Tourism Village 2024 dari United Nations Tourism.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata desa tidak harus mengorbankan identitas budaya. Sebaliknya, budaya lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi sekaligus daya tarik wisata.
Kiprah Zainul dan Nur menjadi bagian dari program Desa Sejahtera Astra yang mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan.
Selama hampir tujuh dekade, Astra menyebut program dan kontribusi sosialnya telah memberikan dampak kepada lebih dari 16 juta masyarakat, termasuk 6,9 juta tenaga kerja dan keluarganya serta 3 juta penerima manfaat melalui program Desa Sejahtera Astra.
Program Desa Sejahtera Astra kini tersebar di 1.533 desa di 35 provinsi.
Astra menegaskan pengembangan masyarakat desa akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari cita-cita Sejahtera Bersama Bangsa sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia.**
