Tangerang, MI - Saat banyak daerah mulai meninggalkan tradisi demi mengejar modernitas, masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang justru memilih bertahan pada nilai-nilai yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Di tengah derasnya arus digital, mereka membuktikan bahwa kemajuan tak harus mengorbankan identitas budaya.
Pada 21-28 September 2026 mendatang, masyarakat adat yang bermukim di lereng Gunung Halimun Salak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, itu kembali menggelar Seren Taun, ritual syukur panen yang telah berlangsung lebih dari 700 tahun.
Bagi mereka, Seren Taun bukan sekadar seremonial, ini adalah peneguhan komitmen untuk menjaga "prasasti" peradaban yang masih bernapas.
Padi Tak Sekadar Hasil Panen
Bagi masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang, padi bukan sekadar hasil pertanian yang bernilai ekonomi. Padi dipandang sebagai sumber kehidupan sekaligus simbol kemakmuran yang harus dijaga dan dihormati.
Keyakinan itu membuat setiap hasil panen diperlakukan secara khusus sesuai aturan adat yang telah diwariskan turun-temurun. Dalam kepercayaan masyarakat adat, padi memiliki keterkaitan dengan sosok Dewi Sri, sehingga cara memperlakukannya diatur oleh hukum adat yang tak tertulis namun sangat dipatuhi.
"Hasil panen di tahun sebelumnya saja masih banyak di lumbung," ujar Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang, Henriana Hatra atau Kang Noci, dalam sebuah tayangan podcast kolaborasi Ayo Buka Mata x Merdeka Institute, belum lama ini.
Menurut Kang Noci, melimpahnya cadangan padi menjadi bukti bahwa masyarakat masih mampu menjaga keseimbangan antara alam, adat, dan kehidupan.
Karena itu, masyarakat Cisungsang memegang satu prinsip yang tidak boleh dilanggar, yakni hasil panen padi tidak diperjualbelikan secara komersial. Padi hanya boleh ditukar melalui sistem barter dengan kebutuhan lain. Bagi mereka, aturan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap sumber kehidupan sekaligus cara menjaga keberkahan agar lumbung tetap terisi.
Melawan "Penjajahan Digital" dengan The Way of Life
Tahun ini, Seren Taun mengangkat tema "Merawat Prasasti Peradaban Budaya untuk Masa Depan Bangsa." Tema tersebut mencerminkan tekad masyarakat adat untuk mempertahankan nilai-nilai leluhur di tengah derasnya perubahan zaman.
Kang Noci menjelaskan bahwa peradaban bagi masyarakat adat Cisungsang bukanlah sesuatu yang statis. "Ketika saya selami lebih dalam, kami melihat tradisi ini bukan sebuah benda artistik atau ekspresi ritual. Kami melihat ini adalah the way of life, sistem nilai yang melekat dan harus dijaga," tegasnya.
Ia menilai, jika tradisi hanya dipandang sebagai benda artistik yang bisa dipamerkan, tentunya akan sangat mudah tergilas oleh zaman. Terlebih lagi saat ini, masyarakat adat berhadapan dengan budaya modern dan digital yang begitu masif—sesuatu yang disebutnya sebagai "penjajahan digital."
Meski demikian, masyarakat Kasepuhan Cisungsang tidak menutup diri terhadap perubahan. Mereka memilih beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai adat yang telah diwariskan para leluhur.
"Wilayah adat bukan hanya hamparan tanah, tapi juga ruang dialog antara pengetahuan modern dan pengetahuan tradisi kami," ucap Kang Noci.
Karena itu, teknologi tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari perkembangan zaman yang dapat dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan aturan adat.
"Apa yang bisa diambil manfaatnya, kami ambil; yang dilarang, ya dilarang. Dialog ini yang terus kami pertahankan," tuturnya.
Sistem Prah-prahan
Selain menjaga tradisi, masyarakat Kasepuhan Cisungsang juga memiliki sistem pendataan yang dikenal sebagai prah-prahan.
Sistem ini bukan sekadar mencatat jumlah penduduk, tetapi juga digunakan untuk menghitung nilai ekonomi, seperti kepemilikan ternak (sapi, kerbau, dll) dan cadangan padi, sekaligus memvaluasi tingkat kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan hitungan prah-prahan terbaru, jumlah warga Kasepuhan Cisungsang mencapai lebih dari 13.800 jiwa yang tersebar di wilayah adat seluas sekitar 6.180 hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa tradisi bukan penghambat kemajuan. Sebaliknya, nilai-nilai adat justru menjadi fondasi dalam membangun kemandirian dan memastikan setiap keluarga tetap hidup berkecukupan.
Puncak Rasa Syukur
Seren Taun yang akan digelar pada September mendatang menjadi puncak ungkapan syukur masyarakat adat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang diperoleh selama setahun.
Lebih dari sekadar perayaan, Seren Taun menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan identitas.
Bagi masyarakat Kasepuhan Cisungsang, menjaga tradisi adalah cara mereka mencintai masa depan. Mereka tidak hanya merawat tanah, tetapi juga merawat sistem nilai yang membuat manusia tetap menjadi manusia, di tengah arus zaman yang sering kali melupakan esensi dari mana mereka berasal.
