BREAKINGNEWS

Kelangkaan Gas Melon di Sukabumi, Warga Terpaksa Pakai Kayu Bakar

Kelangkaan Gas Melon di Sukabumi, Warga Terpaksa Pakai Kayu Bakar
Gas lpg 3 kg langka di Sukabumi Selatan (Foto: Dok MI)

Sukabumi, MI - Warga di wilayah Sukabumi Selatan kini menghadapi kesulitan akibat langkanya gas elpiji 3 kilogram atau gas melon. Tak hanya sulit dicari, harga gas di pasaran juga naik tajam melebihi ketentuan pemerintah.

Situasi ini memaksa ibu rumah tangga hingga pelaku UMKM mengeluarkan biaya lebih besar hanya untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

Warga juga terpaksa berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain, bahkan sampai ke pelosok desa, untuk mencari gas. 

Kelangkaan gas juga dirasakan warga di Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah. Salah seorang warga, Usep Saepul Rohmat (31), mengaku kesulitan mendapatkan gas meski sudah berkeliling ke beberapa pangkalan.

"Iya, sudah ada hampir satu pekan di sini kesulitan mendapatkan gas LPG. Sudah muter ke mana-mana, tapi kosong. Kalau ada juga langsung habis, harganya juga naik jadi Rp30 ribu," kata Usep, Senin (6/4/2026).

Usep menilai kondisi ini sangat berdampak pada kebutuhan rumah tangga.  "Jelas kelangkaan gas ini sangat berdampak pada warga yang saat ini mengandalkan gas untuk memasak," ujarnya.

Warga lain, Yayat (45), menyebut warga terpaksa kembali menggunakan kayu bakar sebagai alternatif.

"Mau tidak mau (pakai kayu bakar) karena sudah tidak ada pilihan, kalau ada tambahan pasokan gas tidak akan mengalami kelangkaan," ungkapnya.

Sementara itu, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Sukabumi menanggapi situasi ini. Kepala Disdagin, Dani Tarsoni, menyebut lonjakan permintaan sebagai salah satu penyebab utama kelangkaan gas di wilayah tersebut.

"Penyebabnya banyak, mulai dari panic buying hingga permintaan tinggi. Saat ini permintaan di lapangan terpantau naik hampir dua kali lipat," jelas Dani.

Pihak Disdagin mengaku telah menelusuri rantai distribusi dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

"Kami sudah koordinasi dengan Hiswana Migas dan SPBE. Pihak mereka sedang menjajaki pemenuhan kebutuhan yang melonjak tersebut. Kami pastikan kondisi ini sudah diketahui oleh pihak-pihak terkait," terang Dani.

Meski koordinasi telah dilakukan, distribusi gas di lapangan masih belum stabil. Tingginya permintaan membuat stok cepat habis begitu tiba di pangkalan.

"Minimnya distribusi dan lemahnya pengawasan diduga menjadi penyebab berulangnya kelangkaan LPG, terutama saat momentum hari besar," kata dia.

Warga berharap adanya langkah konkret, seperti operasi pasar atau penambahan kuota distribusi, agar harga gas kembali normal.

Topik:

Rolia Pakpahan

Penulis

Video Terbaru

Kelangkaan Gas Melon di Sukabumi | Monitor Indonesia