Terbongkar! Puluhan WNA Operasikan Kantor Siber Berkedok Agen Wisata di Sukabumi

Sukabumi, MI - Sebuah logo bertuliskan “Fengda Wealth Management” ditemukan di salah satu kamar Grand Desa Resort, Cimaja, Palabuhanratu. Logo bergambar kunci dan roda gigi berwarna emas itu diduga berkaitan dengan aktivitas siber lintas negara yang dilakukan secara tersembunyi.
Temuan itu membuat pemilik penginapan, Koh Leleung, kaget. Ia menyebut identitas yang ditemukan di dalam kamar sangat berbeda dengan tujuan awal para penyewa, yang merupakan puluhan warga negara asing asal China.
Menurut Koh Leleung, saat pertama datang, mereka mengaku hendak menggelar kegiatan wisata.
"Ngakunya mau bikin tour. Jadi dia mau mengadakan tour buat orang China yang mau main ke sini, ke Sawarna, ke Ciletuh. Ngakunya seperti itu, tour leader lah," ujar Koh Leleung dalam pernyataannya, Selasa (14/4/2026).
Meski awalnya mengaku sebagai agen wisata, kondisi di lokasi justru berbeda. Kamar yang seharusnya digunakan untuk beristirahat malah diubah menjadi kantor digital, lengkap dengan meja panjang dan jalur kabel internet yang masif.
Keberadaan logo "Fengda Wealth Management" yang terpasang di dinding menunjukkan bahwa kelompok ini tidak sekadar menginap, melainkan telah memplot lokasi tersebut sebagai kantor pusat operasional mereka.
Koh Leleung mengaku tidak mengetahui soal pemasangan logo perusahaan maupun aktivitas yang dilakukan di dalam kamar tersebut.
Ia menjelaskan, para WNA itu mulai menempati penginapan sejak sebelum Lebaran dan bahkan berencana mengontrak lebih dari 10 kamar selama satu tahun penuh.
"Enggak tahu (aktivitas siber), kan katanya belum aktivitas. Baru mau aktivitas di situ," katanya, sambil menunjukkan ruangan yang kini telah kosong ditinggalkan penghuninya.
Istilah wealth management biasanya merujuk pada jasa pengelolaan keuangan atau investasi. Namun dalam kasus penggerebekan oleh pihak imigrasi ini, muncul dugaan bahwa nama tersebut hanyalah kedok untuk menaungi aktivitas siber mereka.
Kini, logo “Fengda” yang tertempel di dinding kamar tersebut menjadi petunjuk penting bagi pihak Imigrasi untuk melacak jaringan internasional ini.
Di balik pengakuan sebagai agen wisata kepada pemilik penginapan, tersimpan tanda tanya besar soal aktivitas yang sebenarnya dijalankan oleh kelompok asing itu di kawasan pesisir Palabuhanratu, sebelum akhirnya mereka menghilang meninggalkan lokasi.
Topik:
